Wapres JK menekankan para kepala daerah untuk menjaga distribusi. Seperti memperpendek alur distribusinya

Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta pemerintah daerah bersinergi dalam menjaga inflasi nasional. Caranya, dengan menjaga alur distribusi.

"Begitu bapak persulit investasi di daerah, dan perdagangan, juga menyebabkan inflasi. Kalau di daerah stok gula kurang, itu suatu indikator akan terjadinya kelangkaan dan akan terjadi inflasi," kata Wapres JK saat Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi 2019 di Jakarta, Kamis (25/7/2019).

JK menekankan para kepala daerah untuk menjaga distribusi. Seperti  memperpendek alur distribusinya. "Sehingga perlunya daerah, gubernur, bupati, walikota, untuk menjaga distribusi, dan industri dan distribusi dari hasil pertanian, keseimbangannya, dengan cara tentu menjaga tingkat alur itu lebih pendek, agar lebih terjaga," kata JK.

Jika tidak seperti itu, maka menurutnya bisa menimbulkan kemacetan dalam distribusi. Hal itu katanya bisa menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok ikut menjadi naik. "Karena kalau tidak ada, pedagang juga susah, musti ada perantara," kata JK.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan laporan pengendalian inflasi kepada Wapres JK dalam Rakornas Pengendalian Inflasi 2019. Rapat dengan tema 'Sinergi dan Inovasi Pengendalian Inflasi untuk Penguatan Ekonomi yang Inklusif' ini juga dihadiri oleh para kepala daerah.

Sebelumnya Badan Pusat Statistik mencatat, inflasi pada Juni 2019 sebesar 0,55 persen. Sementara itu, inflasi tahun kalender Januari hingga Juni 2019 sebesar 2,05 persen dan inflasi tahun ke tahunnya menjadi sebesar sebesar 3,28 persen.

Berdasarkan pantauan BPS dari 82 kota Indeks Harga Konsumen atau IHK, sebanyak 76 kota IHK mengalami inflasi, sedangkan enam kota terjadi deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Manado sebesar 3,60 persen, sedangkan yang terendah di Singaraja sebesar 0,02 persen. Sementara itu, kota yang mengalami deflasi tertinggi yakni Tanjung Pandan sebesar 0,41 persen, dan yang terendah terjadi di Jayapura sebesar 0,08 persen.

Sementara untuk Juli 2019, Bank Indonesia memperkirakan inflasi sebesar 0,2 persen, sehingga secara tahunan atau year on year  tingkat inflasi 0,32 persen. Hal itu diperoleh berdasarkan survei pemantauan harga sampai minggu ketiga di bulan ini.

Inflasi itu didorong oleh beberapa komoditas pangan dan juga emas perhiasan. Komoditas yang paling tinggi sumbangannya adalah cabai merah.