Pernyataan bernada ancaman dari Trump terkait dengan perang dagang AS-China membuat bursa Asia mulai tertekan di awal sesi pagi ini, Rabu (17/7).

Mengawali sesi perdagangan pertengahan pekan ini, Rabu (17/7) di bursa saham utama Asia, gerak indeks terpantau cenderung tertekan. Laporan menyebutkan, investor yang terlihat menangkap sinyal suram dari pernyataan terkini Presiden AS Donald Trump menyangkut perang dagang dengan China. Sejumlah laporan yang telah beredar di media internasional menyebutkan, Trump yang menyatakan bahwa jalannya perundingan dagang AS-China yang masih sangat panjang dan mungkin saja untuk menaikkan tarif masuk atas produk asal China lainnya senilai $325 miliar.

Pernyataan tersebut dinilai peringatan dan sikap keras Trump yang sering mengejutkan untuk terjadi kembali. Investor akhirnya mulai mempertimbangkan sikap optimis yang selama ini muncul akibat berhasilnya pertemuan Trump-Xi di Jepang bulan lalu mencapai kesepakatan.  Tekanan jual akhirnya mulai muncul di bursa Wall Street hingga indeks di bursa saham AS tersebut menutup sesi beberapa jam lalu di zona penurunan.

Investor di Asia nampaknya telah dijalari kekhawatiran serupa dalam mengawali sesi perdagangan hari ini. Hingga ulasan ini disunting, indeks Nikkei (Jepang) tercatat merosot moderat 0,31% untuk berada di posisi 21.468,38, sementara indeks ASX200 (Australia) tercatat menguat 0,22% untuk menjangkau posisi 6.655,9, serta indeks KOSPI (Korea Selatan) yang menurun curam 1,17% untuk berada di kisaran 2.067,38.

Dengan bekal yang cenderung kurang bersahabat dari sesi perdagangan di Asia dan Wall Street, prospek bagi indeks harga saham gabungan (IHSG) di bursa saham Indonesia yang akan dibuka beberapa menit ke depan diperkirakan kembali muram setelah di sesi perdagangan kemarin IHSG terperosok di zona koreksi.   Untuk dicatat, pada sesi perdagangan kemarin IHSG yang telah konsisten menapak zona pelemahan terbatas yang sekaligus sebagai konsekuensi teknikal usai membukukan lonjakan tajam sebelumnya.      

Kerawanan bagi IHSG kali ini nampaknya akan berseiring dengan ancaman yang mungkin datang pada nilai tukar mata uang Rupiah.  Setelah melakukan gerak koreksi di sesi perdagangan kemarin dengan berada di kisaran Rp13.930 per Dolar AS, gerak melemah lanjutan bagi Rupiah diperkirakan masih terbuka. Hal ini mengingat sentimen dari melonjaknya kembali indeks Dolar AS di satu sisi, sementara di sisi lainhya sentimen dari rekonsiliasi Jokowi-Prabowo telah mulai sirna.