Tren penguatan nilai tukar Rupiah bisa menghadapi ancaman serius dengan melonjaknya indeks Dolar AS.

Rilis data perekonomian terkini di Amerika Serikat menunjukkan data penjualan ritel yang mengesankan. Pihak Departemen perdagangan AS menyebutkan, pertumbuhan penjualan ritel untuk bulan Juni lalu yang mencapai 0,4%. Besaran pertumbuhan tersebut tercatat jauh melampaui ekspektasi sejumlah analis. Kisaran pertumbuhan data penjualan ritel tersebut juga akan menjadi gangguan serius bagi Bank sentral AS, The Fed  yang  hendak melakukan penurunan suku bunga acuan bulan ini.

Sangat sulit bagi The Fed, sekalipun di bawah tekanan Presiden Trump, untuk melakukan penurunan suku bunga acuan dalam taraf yang tajam dengan melihat serangkaian data perekonomian terkini AS. Penurunan suku bunga acuan akhirnya sangat mungkin dilakukan dalam rentang moderat dan oleh karenanya, ekspektasi untuk melemahnya nilai tukar DolarAS terhadap mata uang utama dunia lainnya mulai terbatas dan bahkan pupus.

Pantauan menunjukkan, gerak indeks Dolar AS yang kembali melompat dalam 20 jam terakhir, di mana hingga sesi perdagangan pagi ini di Asia, Rabu (17/7) tercatat telah kembali berada di kisaran 37,4 atau melompat hingga kisaran 0,45%.  Penguatan yang meyakinkan pada indeks DolarAS kali ini juga mendapatkan topangan yang sangat penting dari polemik Brexit yang semakin tidak pasi di Inggris. Laporan terkini menyebutkan, salah satu kandidat yang sangat kuat untuk menduduki kursi Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson yang telah menggaungkan peluang untuk Brexit tanpa kesepakatan.

Nada pernyataan tersebut tentu akan memantik kekhawatiran investor mengingat kinerja perekonomian Inggris dipastikan akan terhantar dalam resesi.  Nilai tukar Poundterling akhirnya runtuh tak tertahankan kali ini, dan indeks Dolar AS semakin terlonjakkan. Pada gilirannya, melambungnya posisi indeks Dolar AS, sedikit banyak tentu akan menjadi ancaman serius bagi nilai tukar mata uang Rupiah.  Untuk dicatat, dalam tinjauan teknikal terkini sebelumnya disebutkan bahwa tren penguatan jangka menengah pada mata uang Rupiah yang kembali solid berkat sentimen rekonsiliasi yang terjalin antara Jokowi dengan Prabowo akhir pekan lalu.

Namun belum cukup berumur, sentimen tersebut kini harus menghadapi tantangan yang tak ringan dari Brexit serta kemungkinan mentahnya harapan penurunan suku bunga acuan oleh The Fed dalam rentang tajam.    Meski demikian, hingga kini pola teknikal Rupiah masih  berada dalam tren penguatan, dan oleh karenanya gerak menguat lebih lanjut masih cukup memiliki prospek. Hanya saja investor mesti waspada serangkaian sentimen eksternal yang bisa saja mengejutkan untuk membalikkan tren dengan cepat.