Pola teknikal GBPUSD terkini masih belum menunjukkan tanda-tanda pembalikan untuk menguat dalam waktu dekat.

Sentimen kekhawatiran bahwa Inggris akan  keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan telah berhasil memantik tekanan jual pada mata uang Inggris, Poundsterling. Hal ini terjadi cukup intens dalam 24 jam terakhir.

Pantauan terkini menunjukkan gerak nilai tukar Poundsterling terhadap dolar AS (yang disimbolkan GBPUSD) telah runtuh dengan konsisten dalam sehari pertama sesi perdagangan pekan ini. Terkini, GBPUSD terpantau berada di posisi 1,2515 dibanding titik tertingginya di sesi akhir pekan lalu  yang berada di kisaran 1,2578.

Serangkaian laporan yang berhasil dihimpun menyebutkan, gerak melemah GBPUSD kali ini yang dilatari dengan dua sentimen dominan yang kurang menguntungkan. Sentimen pertama datang dari rilis data perekonomian terkini Inggris yang menunjukkan kesuraman seiring dengan perlambatan ekonomi global.  Namun sentimen berikutnya yang lebih memukul adalah dari proses  keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang disebut Brexit.

Seiring dengan transisi pertarungan memperebutkan kursi Perdana Menteri usai mundurnya Perdana Menteri May, calon kuat Boris Johnson yang selama ini dikenal dengan sikap sangat kerasnya telah secara dini mengemukakan programnya untuk memungkinkan Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan.

Sementara sejumlah analisis menyebutkan, Brexit yang terjadi tanpa kesepakatan akan menghantarkan perekonomian Inggris jatuh dalam resesi. Boris Johnson yang kini menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan PM May, akhirnya menjadi perhatian besar investor  akan program dan langkahnya.

Serangkaian situasi teknikal demikian akhirnya memaksa investor untuk melakukan tekanan jualterhadap Poundsterling hingga kini.  Bahkan melemahnya posisi indeks Dolar AS sekalipun, hingga kini terlihat tidak terlalu berpengaruh banyak terhadap posisi Pounsterling.  Tinjauan teknikal terkini  menunjukkan,  gerak GBPUSD yang telah merosot konsisten dan signifikan alias  ‘terkubur’ oleh  sentimen Brexit dalam lebih dari tiga hari sesi perdagangan terakhir.

Namun gerak GBPUSD hingga ini masih belum juga menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Sentimen Brexit dan yang lebih parah telah berpadu dengan suramnya data perekonomian Inggris terkini, nampaknya telah menjadi mimpi buruk berkepanjangan bagi Poundsterling, dan GBPUSD barangkali masih akan semakin rontok tak berdaya hingga beebrapa hari sesi perdagangan ke depan sebagaimana terlihat pada grafik harian terkini di atas.