Gerak nilai tukar Rupiah di sesi hari ini, Selasa (9/7) diperkirakan akan kembali terjebak di rentang terbatas.

Kekuasaan Presideen AS Donald  Trump kini bernar-benar sedang dalam ujian tak ringan. Keinginan untuk membangkitkan ekonomi AS dengan memangkas suku bunga yang ditetapkan bank sentral AS, The Fed,   justru terlihat menghasilkan  sikap keras nan frustasi presiden yang penuh dengan kejutan itu.   Dengan masih  kembali ragunya  keputusan penurunan suku bunga akibat rilis data ketenaga kerjaan terkini AS yang mengesankan,  tuntutan Trump untuk menurunkan suku bunga dengan tajam menjadi kembali menuai tantangan.

Sikap investor akhirnya mulai realistik dan hal ini tercermin dalam pola gerak indeks Dolar AS yang malah telah berhasil dengan cepat mengakhiri tren pelemahan jangka menengah  sejak sesi perdagangan 5 Juli lalu.  Berakhirnya tren pelemahan indeks Dolar, dengan mudah akan bertransformasi bagi sulitnya Rupiah untuk mengkandaskan mata uang Paman Sam itu menembus level Rp13.000-an sebagaimana diinginkan.

Grafik harian terkini indeks Dolar AS berikut menunjukkan, hambatan yang tak ringan bagi Rupiah untuk mengandangkan Dolar AS ke level Rp13.000-an:

Tren pelemahan telah berakhir dan pola gerak indeks Dolar AS kini telah berada dalam fase ketiadaan tren. Sementara pada sisi lainnya, sikap investor masih menantikan keputusan besaran penurunan suku bunga oleh   The Fed.  Bila penurunan cukup tajam, sekitar 0,5%, gerak indeks Dolar AS dengan mudah diperkirakan akan berbalik turun curam. Namun  bila penurunan suku bunga oleh The Fed hanya mencapai kisaran 0,25% sebagaimana diekspektasikan investor  dalam dua hari terakhir, maka gerak indeks Dolar sangat mungkin hanya sedikit menurun.

Gerak turun indeks Dolar AS yang menurun moderat akan dengan sendirinya menjadi energi tambahan bagi Rupiah untuk menguat.  Namun bila gerak turun indeks Dolar AS berlangsung tajam, gerak penguatan Rupiah diyakini akan fantastis dan sangat  mungkin dengan mudah menembus kisaran Rp13.000-an per Dolar AS.

Powell tentu kini berada dalam tekanan yang sulit dan memusingkan, bila menurunkan suku bunga dalam rentang tajam akan terhadang oleh rilis data ketenaga kerjaan terkini yang mengesankan. Namun sebaliknya, bila hanya menurunkan suku bunga dalam taraf moderat, akan kembalu menghadapi tekanan keras dari Trump.

Kemampuan Rupiah untuk menguat lebih lanjut  hingga menembus kisaran Rp13.000-an per Dolar AS, kini benar-benar bergantung dari hasil duel sengit Trump-The Fed. Terlebih penguatan Rupiah beberapa hari sesi perdagangan sebelumnya hanya menggantungkan rilis cadangan devisa yang meningkat. Untuk sepanjang sesi perdagangan hari ini, Selasa (9/7), gerak di rentang terbatas akan kembali menghinggapi  Rupiah. Hal ini mengingat posisi indeks Dolar AS yang terlihat masih kukuh di kisaran 970an sebagaimana  terlihat pada grafik di atas.