Kalangan bisnis di Inggris terlihat semakin tersiksa oleh drama dan badai politik Brexit yang masih berlarut hingga kini.

Proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa nampaknya telah menjadi pukulan yang sangat serius bagi kinerja perekonomian Inggris. Usai hasil referendum tiga tahun lalu menghasilkan keputusan untuk keluar dari Uni Eropa, hingga kini proses keluar dari Uni Eropa masih berlarut dan semakin menemui ketidakpastian.

Tak pelak, situasi demikian memmaksa sejumlah kalangan bisnis di Inggris menahan diri untuk melakukan keputusan investasinya hingga pada akhirnya memukul kinerja perekonomian Inggris. Ancaman pukulan bagi perekonomian Inggris nampaknya masih akan berlanjut dan sangat mungkin akan terjadi lebih dahsyat. Hal ini setidaknya tercermin dalam hasil survey terkini yang dihelat oleh sebuah lembaga penelitian Institute of Directors (IoD).

Hasil survey  dengan lebih rinci menunjukkan, Keyakinan kalangan bisnis terhadap kinerja perekonimian yang kini  turun menjadi -28% dalam periode antara 22 Mei hingga   5 Juni. Posisi tersebut tercatat menurun tajam dibanding penelitian sebelumnya yang  dihelat bulan April lalu dengan berada di kisaran   -19%.  pada bulan April.

IoD juga menyatakan, survey yang melibatkan hingga  893 perusahaan tersebut dilakukan  bertepatan dengan pengumuman pengunduran diri Perdana Menteri  Theresa May pada 24 Mei lalu.  Pengunduran diri May tersebut kemudian memunculkan  dua kandidat  kuat yang hingga kini masih bertarung untuk menggantikannya. Sementara dalam sejumlah kesempatan, dua kandidat kuat yang sedang bertarung tersebut dengan lantang menyuarakan kesiapannya untuk menghantarkan Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan jika memang diperlukan.

Pernyataan para calon kuat Perdana Menteri ini tentu semakin mencemaskan kalangan bisnis di Inggris, mengingat keluarnya Inggris tanpa kesepakatan akan dengan mudah menghantarkan perekonomian Inggris terkubur dalam resesi. Hal ini tentu akan menjadi beban suram bagi kalangan bisnis.  Namun kesuraman ternyata tidak  berhenti di situ, serangkaian langkah sejumlah perusahan multinasional yang akhir-akhir ini mulai hengkang dari Inggris adalah realitas dari awal kesuraman yang mungkin lebih sulit diperkirakan imbasnya di waktu mendatang.   Dan tarik ulur proses Brexit yang menjelma sebagai badai politik dan  masih juga berlarut hingga kini, tentu akan memberikan siksaan pahit bagi kalangan bisnis Inggris.

"Menghadapi  ketidakpastian politik adalah bagian tak terpisahkan dari  bisnis,  namun situasi proses Brexit kali ini dinilai telah sangat  ekstrem selama beberapa tahun terakhir,... Dengan  proses  Brexit yang masih ambigu dan pergantian personil pemerintah yang masih berlangsung, banyak  kalangan bisnis menahan investasi pada SDM, operasi, dan teknologi   sehingga merusak pertumbuhan produktivitas Inggris."  Demikian pernyataan kepala ekonomi IoD,  Tej Parikh dalam mengomentari hasil survey tersebut.