Dua inovasi milik Pemda DIY kembali masuk dalam Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2019. Dua inovasi tersebut adalah ‘Menggapai Mimpi Sahabat Rimba’ yang merupakan kolaborasi antara Pemda DIY dengan masyarakat dalam pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam dan ‘Sepatu Jolifa’ yaitu sistem perpustakaan terpadu Jogja Library For All.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada Kamis (04/07) pagi secara langsung memaparkan materi untuk dua inovasi tersebut di Ruang Sriwijaya 1 Lt II, Kantor Kementerian PAN-RB RI, Jakarta Pusat. Dalam paparan di hadapan panelis juri Top 99 Sinovik yang diketuai oleh Prof J.B. Kristiadi dan disaksikan oleh Menpan RB RI Drs. Syafruddin, M.Si. tersebut, Gubernur DIY menyampaikan bahwa Inovasi ‘Menggapai Mimpi Sahabat Rimba’ adalah kerja sama pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam. Dalam hal ini masyarakat berperan sebagai pelaksana operasional pengelolaan wisata. Inovasi ini merupakan pioneer dalam pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam bersama dengan masyarakat di Indonesia, yang menjadi rujukan studi banding hingga skala internasional.  

Tahun 2017, Hutan Lindung Mangunan, Kec. Dlingo, Kab. Bantul, DIY mengawali inovasi ini. Awalnya, sejumlah 87 orang masyarakat sekitar menyadap pinus di kawasan tersebut dengan pendapatan Rp 400.000-Rp 800.000 per bulan untuk lahan seluas 120 ha. Namun ketika inovasi ini diterapkan, dengan hanya memanfaatkan sekitar 30,41 Ha untuk kawasan wisata, selain serapan tenaga kerja meningkat menjadi 656 orang, jumlah pendapatan masyarakat yang mengelola daerah tersebut meningkat  menjadi Rp 1.500.000 - Rp 3.500.000 per bulan. Di tahun 2018, total pendapatan jasa lingkungan wisata tersebut mencapai Rp. 9.042.413.000, dengan pembagian 7% menjadi hak masyarakat dan 25% disetorkan ke kas daerah sebagai bagian dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain hal tersebut, usaha-usaha pendukung wisata di sekitarnya berkembang dari yang semula 65 usaha menjadi 450 usaha. 

“Inovasi tersebut terbukti mampu mendorong berkembangnya desa wisata, pusat kuliner, pusat oleh-oleh, atraksi atau fasilitas pendukung wisata lainnya serta menggerakkan sektor lain seperti pariwisata, kebudayaan, perindustrian, pendidikan, dan kesehatan di lingkup wilayah DIY,” papar Sri Sultan.

Tahun 2019 ini, program ini telah dilaksanakan pula di kawasan hutan produksi KPH Yogyakarta yaitu BUMDes Murakabi, BUMDes Bangun Kencana, dan BUMDes Jati Lestari. Atas dedikasi tersebut, Balai KPH mendapatkan penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Selain melestarikan hutan, dampak positifnya adalah menyejahterakan masyarakat.

Lebih lanjut, Sri Sultan menyampaikan bahwa program tersebut adalah program unggulan Gubernur yang akan diatur regulasi dalam Perda maupun Pergub untuk memberikan kepastian hukum serta akan dilakukan penguatan kelembagaan Koperasi dan BUMDes. Pembiayaan inovasi ini dilakukan melalui APBD/APBN/ dana swadaya masyarakat ataupun pihak ketiga serta akan dilakukan perluasan jaringan untuk lebih memaksimalkan perkembangan.

Selain program hutan wisata tersebut, Gubernur DIY juga memaparkan Sistem Perpustakaan Terpadu Jogja Library For All atau ‘Sepatu Jolifa’. Gubernur DIY menyampaikan bahwa program ini merupakan layanan satu-satunya di Indonesia yang menerapkan pengelolaan perpustakaan melalui System Inter Library Loan tingkat provinsi.

Sepatu Jolifa mulai diterapkan sejak tahun 2016 dan menggunakan sistem aplikasi VuFind bersifat open source. Sistem Sepatu Jolifa terintegrasi dengan 39 perpustakaan di DIY yang diakses secara online dan offline, melalui sistem silang kunjung dan silang pinjam. Para pengunjung cukup datang ke perpustakaan terdekat dan memanfaatkan aplikasi untuk menemukan buku yang berada di perpustakaan lain, sehingga bisa langsung melakukan silang pinjam tanpa harus berpindah ke perpustakaan yang menyimpan koleksi yang dikehendaki karena disediakan petugas pengantaran. 

“Hal ini tentunya memberikan kemudahan dari sisi waktu, ekonomi, aksesibilitas baik untuk anggota maupun non anggota, di samping juga ada efisiensi biaya administrasi 40%,” jelas Gubernur DIY.

Untuk itu, secara bertahap dilakukan penambahan jumlah perpustakaan yang tergabung dalam Jogja Library for All sekaligus upgradinginfrastruktur teknologi informasi. Hal tersebut agar Sepatu Jolifa semakin efektif dan efisien dalam melayani kebutuhan masyarakat untuk menimba ilmu pengetahuan