Amerika Serikat beralasan melakukannya atas nama keamanan nasional.

Daftar hitam yang dibuat Amerika Serikat terhadap perusahaan China makin bertambah panjang. Jika sebelumnya hanya Huawei, kini bertambah lima perusahaan lagi.

Dilansir laman Indian Express, pemerintah Amerika Serikat beralasan melakukannya atas nama keamanan nasional. Mereka menilai akses saingan geopolitik Asia pada teknologi Amerika Serikat.

Langkah ini diambil mendekati pertemuan pemimpin dua negara. Dijadwalkan Donald Trump dan Xi Jinping akan bertemu untuk mengurangi perselisihan keduanya di bidang perdagangan.

Salah satu dari lima nama tersebut adalah pembuat superkomputer Sugon. Organisasi itu menggantungkan pasokan dari perusahaan Amerika Serikat seperti Intel, Nvidia dan Advanced Micro Devices.

Sedangkan tiga lainnya terafiliasi dengan Sugon dan terakhir adalah Institut Teknologi Komputasi Wuxi Jiangnan. Menurut Amerika Serikat, baik Sugon dan Wuxi Jiangnan Institute dimiliki lembaga penelitian militer China. Keduanya terlibat dalam pengembangan generasi berikutnya dari komputasi kinerja tinggi.

Komputasi itu akan membantu modernisasi di bidang militer. Analis Teknologi Eurasia Group, Paul Triolo mengatakan bahwa teknologi yang terlibat mendukung tugas-tugas militer seperti menjalankan simulasi nuklir, menghitung lintasan rudal serta algoritma hipersonik.

"Ini semua tentang perlombaan meningkatkan komputasi, yang ditetapkan China sebagai prioritas utama," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa Sugon memiliki dukungan besar dari pemerintah setempat. Sementara itu, ini bukan kali pertama AS menempatkan perusahaan China dalam daftar hitam. Pada 2015 lalu, National University of Defense Technology, China masuk dalam daftar tersebut.

"AS secara bertahap menekan akses ke teknologi AS untuk elemen-elemen utama superkomputer China generasi berikutnya," ujar dia.