Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berharap dengan ramainya maskapai dalam industri penerbangan lokal, maka akan tercipta tarif pesawat yang kompetitif bagi konsumen

Wacana penggunaan maskapai asing untuk mengantisipasi mahalnya harga tiket terus bergulir. Diperkirakan baka ada tiga maskapai asing yang siap membuka rute domestik di Indonesia. Mereka pun akan menyusul AirAsia yang sudah terlebih dahulu mengudara di Indonesia.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berharap dengan ramainya maskapai dalam industri penerbangan lokal, maka akan tercipta tarif pesawat yang kompetitif bagi konsumen. Kementerian Perhubungan akan tetap mengatur batas atas dan bawah dari tarif penerbangan. "Spirit-nya bukan asing, tapi kompetisi," kata Budi di Kompleks Istana Kepresidenan, beberapa hari lalu.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang juga Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani juga menyebutkan ada tiga maskapai yang siap masuk. Selain AirAsia dan Scoot, ada pula Jet Star yang disebut akan menerbangi rute domestik. "Yang siap itu," ujarnya seperti dikutip Liputan6.com, beberapa waktu lalu.

Berikut profil maskapai asing yang disebut bakal masuk ke Indonesia:

AirAsia

Maskapai ini dianggap pelopor penerbangan murah di kawasan Asia Tenggara, bahkan dunia. AirAsia pertama kali ekspansi ke Indonesia dengan menggandeng Fersindo Nusaperkasa. Mereka mencaplok saham Awair dan mengubah nama maskapai tersebut menjadi Indonesia AirAsia.

Awalnya, maskapai ini hanya mengoperasikan empat unit Boeing 737-300 yang melayani sejumlah rute dari Jakarta menuju Kuala Lumpur, Denpasar, Medan, hingga Surabaya. Hingga saat ini Indonesia AirAsia memiliki 25 pesawat yang melayani sekurangnya 15 destinasi baik di domestik maupun internasional.

Perusahaan induk yakni AirAsia merupakan perusahaan Malaysia yang dimiliki oleh pengusaha Tony Fernandes. Tony, bersama sahabatnya yakni Kamarudin Meranun pada tahun 2001 mengambilalih AirAsia yang dimiliki DRB-Hicom milik pemerintah Malaysia. Dikutip dari Bloomberg, saat itu AirAsia hanya memiliki dua pesawat serta utang US$ 11 juta.

Kondisi dunia penerbangan saat Tony menguasai AirAsia juga terdampak peristiwa 11 September 2001. Ini yang membuat beberapa pihak menganggap langkah Tony ini “gila” meski dia mendapatkan AirAsia dengan biaya 1 Ringgit dari pemerintah Malaysia saat itu. Ternyata, di tangan mantan Analis Keuangan Warner Music tersebut, peruntungan AirAsia berubah. Bahkan, bisa dan menguasai langit Asia Tenggara dengan total anak usaha 8 dan total armada 253 unit.

Vietjet

Selain itu ada pula maskapai berbiaya murah Asia Tenggara lain yang berkomitmen masuk menambah penerbangan internasional yakni Ho Chi Minh menuju Jakarta. Awalnya rute ini akan dibuka pada 2017 lalu, tapi belakangan rencana Vietjet molor hingga tahun ini.

Maskapai ini juga sempat membuat heboh dengan pramugari yang berseragam bikini. Namun, Vice Director Commercial VietJet, Jay L Lingeswar, dua tahun lalu menjanjikan tidak ada bikini yang akan dikenakan pramugari maskapai tersebut di penerbangan Indonesia. Lagi pula hal tersebut hanya dilakukan VietJet saat membuka salah satu rute perdananya.

Selain itu, ia juga menjanjikan program promosi saat memulai penerbangannya ke Indonesia. “Seperti low cost carrierlainnya kami juga akan menyiapkan promo,” katanya.

Scoot

Maskapai ini berdiri pada 2012, sebagai anak usaha Singapore Airlines yang bernisnis di penerbangan berbiaya murah (low cost carier/LCC). Buntut penguasaan 56 persen saham oleh Singapore Airline, pada 2016 maskapai berbiaya murah Singapura lain, Tiger Airways, dilebur ke dalam Scoot.

Hingga saat ini Scoot memiliki 48 armada mulai dari Airbus A-320, Boeing 787-8, hingga Boeing 787-9. Destinasi yang dilayani mencapai 70 titik internasional. Scoot juga melayani penerbangan murah ke Eropa seperti Athena (Yunani) dan Berlin (Jerman). Meski demikian, mayoritas destinasi Scoot berada di wilayah Asia Tenggara dan Asia Timur.

Jetstar

Satu lagi maskapai murah ini sepenuhnya dimiliki oleh Qantas asal Australia. Maskapai yang dimiliki keluarga McGowan ini awalnya bernama Impulse Airlines dan hanya melayani rute domestik Australia. Pada 2001, keluarga ini menjual Impulse kepada Qantas dan berujung adanya QantasLink yakni brand pesawat Qantas.

Dua tahun kemudian, manajemen Qantas memutuskan pesawat bekas Impulse diluncurkan kembali dengan nama Jetstar dan bermarkas di Melbourne. Hingga tahun lalu, maskapai ini mengoperasikan 71 unit pesawat, sebanyak 52 unit di antaranya merupakan Airbus A-320.

Jetstar juga berekspansi ke sejumlah negara lain di Asia. Pertama, ke Singapura dengan membentuk Jetstar Asia Airways yang sahamnya dimiliki Qantas sebesar 49 persen. Kedua, patungan dengan Vietnam Airlines pada 2007 meluncurkan Jetstar Pacific Airlines. Ketiga, ekspansi ke Jepang dengan menggandeng Japan Airlines dan Mitsubishi guna mengoperasikan Jetstar Japan.