Akibat keputusan China, nilai perdagangan sampah plastik dan kertas bekas dunia sebesar US$24 miliar per tahun menjadi mati

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tengah dipusingkan dengan masuknya sampah impor dari mancanegara seperti Amerika Serikat hingga Eropa. Pasalnya, sampah-sampah itu berbahaya dan tidak dapat didaur ulang.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya pun harus melakukan re-ekspor sampah-sampah tersebut ke negara asalnya. Menurut dia, masuknya sampah-sampah plastik secara ilegal ke Indonesia sebenarnya bukan baru pertama terjadi. Pada tahun 2015-2016, Indonesia juga sempat melakukan reekspor puluhan kontainer.

Serbuan sampah impor ilegal ini ternyata juga terjadi di sejumlah negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia, Filipina, Thailand, hingga Vietnam. Mereka pun mengirim balik sampah-sampah tersebut ke negara asalnya.

Dilansir dari The Economist, kehadiran sampah ini dipicu kebijakan Pemerintah China. Negeri Tirai Bambu itu kini telah menghentikan impor sampah dari AS dan Eropa sejak akhir 2017. China merupakan produsen pengolahan sampah daur ulang terbesar di dunia.

China sebagai produsen manufaktur menjual produk dalam kemasan ke negara maju. Sebaliknya AS hingga Eropa sebagai importir produk-produk konsumsi mengirim balik sampahnya ke China. Namun, China kemudian menyetop pembelian sampah impor.

Akibat keputusan China, nilai perdagangan sampah plastik dan kertas bekas dunia sebesar US$24 miliar per tahun menjadi mati. "Pemilik sampah yang dari negara maju harus mencari pembeli baru. Negara Asia Tenggara pun menjadi tujuan dari sampah-sampah impor," tulis The Economist.

Sayangnya, industri pengolahan sampah daur ulang di kawasan Asia Tenggara tak besar. Industri pengolahan kemudian kelebihan pasokan dan sampah menumpuk di tempat pembuangan. Hal inilah yang memicu larangan impor dari negara-negara ASEAN.

Indonesia sendiri telah mengirim balik 5 kontainer berisi sampah ke Amerika Serikat (AS). Pengiriman 5 kontainer tersebut dilakukan dengan kapal kontainer ZIM DALIAN, dari Pelabuhan Tanjung Perak ke Pelabuhan Seattle, AS, yang transit terlebih dahulu di Pelabuhan Shanghai, China.