Gerak IHSG hingga dua pekan ke depan diyakini masih akan merujuk pada sentimen Trump.

Adalah sangat lumrah, bagi bursa saham untuk selalu menaruh perhatian pada sentimen yang sedang berkembang di pentas global. Terlebih bila sentimen tersebut  berhulu pada pusat perekonomian dunia, yaitu  Amerika Serikat yang hingga kini  merupakan kampiun perekonomian dunia.  Namun terangkatnya Donald Trump sebagai Presiden di negeri itu, memberikan warna yang sangat berbeda ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

Kepemimpinan Presiden Trump yang selalu penuh dengan kejutan dan kontroversi, suka atau tidak akan menjadi menu wajib bagi investor untuk menentukan arah dan keputusan investasinya. Hanya saja rasa frustasi dan cepat lelah mungkin akan menjadi  kewajaran bagi investor sejak Presiden Trump bertahta di Gedung Putih.  Rangkaian kebijakan perang dagang dengan China dan Meksiko, atau pun sanksi terhadap Iran dan Venezuela, telah terlanjur menjadi menu wajib investor yang seakan  setia berada dalam keresahan demi menggapai profit.

Tak terkecuali pada bursa saham Indonesia, di mana gerak indeks harga saham gabungan (IHSG) terpaksa harus terseret dan terombang-ambing oleh gelombang keputusan dan sentimen dari Trump.  Terlebih dalam 7 pekan terakhir, gerak IHSG terlihat berada dalam ‘ayunan maut’ akibat keputusan kejutan Trump yang telah merambah hingga pasar komoditas dan pasar valuta.

Grafik harian terkini IHSG berikut menunjukkan betapa sentimen Trump telah terlanjur menjadi ‘idola’ bagi investor yang mungkin sangat kelelahan dalam rasa frustasi:

Tren jual jangka menengah yang sangat solid akhirnya telah terbentuk pada sesi perdagangan 3 Mei lalu. Langlah presiden Trump yang menyulut perang dagang menjadi latar dari gerak turun IHSG saat tersebut. Namun sentimen yang sama pula telah membuat gerak IHSG mampu berbalik membentuk tren penguatan jangkla menengah pada sesi perdagangan 12 Juni lalu.  Sentimen Trump kali ini berkolaborasi dengan pernyataan The Fed yang berniat untuk menurunkan suku bunga acuan menyusul data perekonomian terkini yang cenderung muram akibat tersulut perang dagang Trump.

Kini, IHSG masih berada dalam tren penguatan jangka menengah  yang solid, sekalipun tidak terlalu meyakinkan.  Namun investor lagi-lagi, harus kembali berjibaku dengan serangkaian sentimen  kejutan yang mungkin akan pecah dalam setidaknya dua pekan ke depan, terutama dari   kebijakan keras dan mengejutkan Trump dan sangat mungkin akan berpadu dengan The Fed.

Trump, benar-benar menjadi idola  bagi pasar saham di seluruh dunia, dan IHSG harus terseret dalam gelombang yang melelahkan itu.