Duet sentimen dari langkah keras Trump dengan penurunan suku bunga oleh The Fed akan menjadi menu utama sesi perdagangan pekan ini.

Setelah dalam beberapa pekan sesi perdagangan terakhir investor harus mengikuti setiap ‘arahan’ dan sinyal  dari Gedung Putih dan The Fed (Bank Sentral AS), jalannya sesi perdagangan hingga akhir bulan Juni ini nampaknya masih tidak akan jauh beranjak dari pernyataan duet Trump-The Fed.  Sebagaimana diwartakan sebelumnya, Presiden AS Donald Trump yang telah menyatakan niatnya untuk menemui Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT G-20 yang akan berlangsung di Osaka 28-29 Juni mendatang.

Presiden AS yabng penuh dengan kejutan itu juga menekankan keyakinannya bahwa China akan metraih kesepakatan dagang dengan AS sesegera mungkin. Trump berdalih bahwa China memang harus meraih kesepakatan dagang dengan AS guna menghindarkan bencana ekonomi yang buruk bila Washington menaikkan tarif masuk atas produk asal China lainnya senilai $325 miliar  hingga memaksa gelombang besar hengkangnya perusahaan keluar dari China guna menghindari tarif masuk di pasar AS.

Namun hingga kini tanggapan Beijing masih belum juga muncul terkait dengan ajakan Trump untuk menggelar pertemuan dengan Xi Jinping. Beijing sejauh ini terlihat masih  mempertimbangkan dengan sangat cermat dalam menghadapi kebijakan keras Trump yang pahit.

Pada sisi lainnya, investor di bursa saham dan pasar valuta akan memberikan perhatian besar pada kemungkinan pertemuan pemimpin dari dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu. Ekspektasi akan menjadi positif bila pertemuan tersebut terjadi dan berhasil mencapai kesepakatan  yang dengan sendirinya akan menyelamatkan kinerja perekonomian global dari ancaman perlamabatan tajam.     

Namun selain agenda pertemuan Trump-Xi, investor juga masih harus melongok  kebijakan The Fed untuk menurunkan suku bunga acuan. Dalam beberapa hari sesi perdagangan terakhir, harapan pada Teh Fed untuk menurunkan suku bunga telah berhasil menyelamatkan indeks dari keterpurukan lebih dalam serta menahan indeks Dolar AS dari gerak naik tinggi yang liar.

Sayangnya, serangkaian catatan menunjukkan, penurunan suku bunga acuan yang tidak selalu akan mengangkat harga saham dan juga menurunkan nilai tukar mata uang Dolar AS.  Oleh karenanya, gerak naik tinggi indeks di bursa saham dalam beberapa waktu terakhir dan juga gerak melemah nilai tukar Dolar AS yang dilatari dengan spekulasi  penurunan suku bunga oleh The Fed, cenderung menjadi ‘janji pepesan kosong’ yang sangat mungkin akan menggelincirkan investor dalam rasa frustasi dan kecewa.

Hal yang tak jauh berbeda juga terjadi pada harapan tercapainya kesepakatan dagang AS-China dalam gelaran KTT G-20. Tidak ada jaminan bahwa bila kesepakatan dagang tercapai akan segera melonjakkan kinerja perekonomian dalam taraf yang diharapkan. Oleh karenanya, duet Trump-The Fed akan cenderung menjadi popesan kosong yang berpotensi  menghantarkan investor pada rasa frustasi.