Hingga saat ini, Hary telah memiliki 16 televisi lokal dan beberapa televisi berlanganan

Pengusaha Hary Tanoesoedibjo disebut-sebut membeli rumah milik Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Rumah mewah seluas 500 meter persegi di Beverly Hills itu dibeli Hary Tanoe dengan harga US$13,5 juta atau sekira Rp193 miliar.

Dilansir dari Washington Post, berdasarkan catatan yang terdaftar di pemerintah wilayah Los Angeles pada 31 Mei menunjukkan putra tertua Trump, Donald Trump Jr, menjual properti itu kepada Hillcrest Asia Ltd yang terdaftar di British Virgin Island.

Hary Tanoe dikenal sebagai rekan bisnis Trump dalam dua proyek di Indonesia yaitu sebuah resor di Bali serta sebuah reskor dan lapangan golf di Jawa Barat. (Baca Juga: Konglomerat Indonesia Beli Rumah Presiden AS Donald Trump)

Hary pernah menyatakan, kedua proyek itu bernilai lebih dari US$500 juta atau lebih dari Rp7 triliun saat sudah rampung.

Siapa Hary Tanoe?

Hary Tanoe adalah konglomerat raja media di Indonesia. Berdasarkand data Forbes, kekayaan Hary Tanoe sekitar US$1,1 miliar atau sekitar Rp15,4 triliun. Kekayaan itu dikumpulkan Hary Tanoe dari bisnis media yang berada di grup Media Nusantara Citra (MNC).

Lahir di Surabaya pada 26 September 1965, Hary Tanoe memulai bisnisnya sejak lulus dari kuliah. Dia kuliah di Carleton University, Kota Ottawa, Kanada dengan jurusan Bachelor of Commerce, dirinya berubah drastis menjadi pemuda yang rajin belajar dan berprestasi. Bahkan, ia menjadi mahasiswa dengan nilai cum laude di kampusnya.

Usai mengenyam pendidikan tinggi di Kanada pada 1989, Hary yang saat itu masih berusia 24 tahun memulai bisnis pertamanya, yaitu PT Bhakti Investama, sebuah perusahaan di bidang investasi. Berbekal ilmu yang didapatkan dari bangku perkuliahan dan juga dari sang ayah, Ahmad Tanoesoedibjo yang merupakan pendiri PT Adhikarya Sejati Abadi bersama mantan presiden Gus Dur. Meski belum besar, namun Hary optimistis bahwa usaha yang tengah dirintisnya tersebut kelak akan menjadi besar.

Dari bisnisnya itulah, kemudian Hary membeli perusahaan lain yang mungkin sudah akan bangkrut untuk ia perbaiki dan kemudian ia jual kembali. Perusahaan investasinya pun terus berkembang dan semakin besar. Hingga di 1997-1998, era krisis moneter melanda Indonesia. Namun, ketika kondisi kebanyakan orang seolah terjepit, Hary justru mengaku melihat peluang dari kondisi tersebut.

Ia pun memulai titik poin investasi ke perusahaan secara permanen, dan bukan sekadar membeli, lalu menjual kembali. Fenomena banyaknya perusahaan yang bangkrut atau bermasalah karena kredit macet, justru dianggap peluang bagi Hary untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan tersebut. Hingga di 2000, Hary mengambil alih PT Bimantara Citra Tbk, perusahaan yang awalnya dimiliki oleh anak mantan presiden Soeharto, yaitu Bambang Trihatmojo.

Kemudian di 2002, Hary pun membentuk MNC Grup dan berniat menguasai bisnis media. Menurutnya, media akan menjadi bisnis yang menjanjikan. Dimulai dari stasiun televisi RCTI, kemudian Global TV, dan seterusnya.

Hingga saat ini, Hary telah memiliki 16 televisi lokal dan beberapa televisi berlanganan, seperti Indovision, Top TV dan Oke Vision. Ia juga pemilik dari media cetak, yaitu Koran Sindo (Seputar Indonesia), beberapa majalah, media online, dan 34 radio. Kini, ia mampu mempekerjakan belasan ribu karyawan. Bisnis medianya memang berkembang cukup pesat.

Tidak hanya menguasai bisnis media, kelihaian Hary dalam berbisnis juga telah merambah dunia bisnis keuangan, seperti multifinance, asuransi, dan perbankan. Kemudian bisnis properti juga telah disentuhnya.

Beberapa properti yang dimiliki Hary, di antaranya Plaza Indonesia, Grand Hyat, dan beberapa gedung perkantoran. Ia juga merambah ke bidang pertambangan batu bara, serta memproduksi pupuk. Namun, hingga kini, bisnis terbesarnya masih dari media.

Namun, pada 2016, Hary Tanoe memutuskan mengundurkan diri sebagai CEO MNC dan fokus pada politik. Saat ini, Hary Tanoe tercatat sebagai Ketua Umum Perindo.