Akibat sanksi larangan Trump pada Huawei, perusahaan Broadcom dipastikan kehilangan pendapatan senilai Rp12,9 triliun.

Soal perang dagang AS-China, nampaknya tiada habisnya untuk dieksplorasi imbasnya ke sejumlah  perusahaan terkemuka yang ada di bursa Wall Street. Kebijakan keras Presiden AS Donald Trump dalam menghadapi China, memang harus dibayar sangat mahal dan sangat berat terutama bagi perusahaan yang terimbas langsung dengan pasar China.

Kemarahan Trump pada China sebelumnya telah membuat produk Chinal mengalami kenaikan tarif masuk hingga 25%, namun kemarahan Trump berikutnya menjadi semakin berat, dengan memukul Huawei melalui larangan yang  melumpuhkan.   Lumpuhnya Huawei, sebuah perusahaan rakssa teknologi asal China yang selama ini cukup banyak membelanjakan uangnya pada perusahaan teknologi asal AS, sudah barang tentu akan menjadi pukulan tak kalah telaknya.

Laporan terkini menyebutkan, suara sumbang dan kecewa yang diungkap oleh CEO Broadcom, sebuah perusahaan teknologi yang sahamnya tercatat di bursa Wall Street.  Dalam sebuah kesempatan, CEO Broadcom menyatakan kekesalannya atas kebijakan Trump yang dinilainya keliru. Dan kekeliruan itu  kini harus mengorbankan perusahaan Broadcom.

Presiden Trump bisa dinilai mengorbankan Broadcom  dan sejumlah perusahaan teknologi lain untuk melumpuhkan Huawei guna membuat China bertekuk lutut dalam perundingan dagang.  Namun sejumlah perusahaan teknologi tersebut kini harus menderita akibat pengorbanan tersebut. Broadcom dalam salah satu kesempatan juga menekankan bahwa pihaknya pada tahun lalu telah meraih pendapatan dari Huawei sebedar $900 juta (setara dengan Rp12,9 triliun). Kini, pendapatan tersebut dipastikan lenyap akibat kebijakan keras Trump yang melumpuhkan Huawei itu.

Sementara pada sisi lainnya, pada tahun 2017 lalu, perusahaan Broadcom yang semula berbasis di Singapura berpindah ke Amerika Serikat, dengan salah satu alasannya demi mengadopsi keinginan Trump.  Kini, langkah perpindahan basis perusahaan tersebut seakan sia-sia akibat langkah kejutan Trump yang melumpuhkan Huawei tersebut.

Bahkan lebih parah, saham Broadcom kini harus mengalami masa sangat suram dengan sempat rontok 22% dalam kurun kurang dari sebulan sesi perdagangan. Sementara dalam dua hari sesi perdagangan terakhir, saham Broadcom telah merosot hingga lebih dari 13%, setelah pada sesi perdagangan akhir pekan ini, Jumat (14/6) terpangkas tragis 5%.  

Saham Broadcom, kini benar-benar apes, seolah sedang ‘dikerjain’ oleh Presiden Trump yang memang penuh dengan kejutan itu.