Gerak naik hingga lebih dari 24% saham SMBR terbilang nekat karena terjadi di tengah runtuhnya IHSG pagi ini, Rabu (12/6).

Di tengah gerak koreksi IHSG pada  sesi hari ketiga pekan ini, Rabu (12/6), salah satu saham yang lumayan sering jadi perbincangan justru terlihat mampu melakukan gerak melawan arus dengan melompat fantastis hingga menyentuh batas auto reject atas. Adalah saham milik PT Semen Baturaja Tbk., yang kali ini menjadi lakon bursa saham. Saham yang diperdagangkan dengan kode SMBR tersebut pada sesi pagi ini telah terhenti di kisaran Rp710 per lembarnya  setelah menguat tajam 19,33%, setelah sempat melompat 24,3% di kisaran Rp740.

Gerak naik yang terlalu cepat dan tajam akan selalu memberikan konsekuensi teknikal yang serius, tak terkecuali dengan yang terjadi pada saham SMBR kali ini. Namun secara keseluruhan, investor mesti menunggu terlebih dulu terbentuknya tren penguatan jangka menengah sebelum berniat melakukan aksi akumulasi. Grafik harian terkini berikut akan memberikan gambaran ringkas situasi teknikal saham SMBR usai melakukan gerak naik fantastis pagi ini:

Tren jual saham  SMBR yang telah berlangsung cukup lama sesungguhnya telah mulai menemui pola kejenuhan sejak pekan terakhir bulan Mei lalu. Namun disamping akibat sesi perdagangan yang mengalami libur lebaran panjang, minimnya sentimen internal yang positif terlihat telah membuat sulit bagi saham SMBR untuk benar-benar mengakhiri tren jual yang suram.

Praktis, gerak naik signifikan hanya terjadi di sesi perdagangan pagi ini dan  yang mengejutkan adalh terjadi dengan langsung mencolek   batas atas auto  reject.  Namun persoalan teknikal tidak berhenti di sini. Investor yang berniat melakukan aksi akumulasi terhadap SMBR kini akan lebih bijak untuk menantikan terbentuknya tren penguatan yang meyakinkan.

Plla grafik yang terpapar di atas menunjukkan, saham SMBR akan mampu berbalik membentuk tren penguatan (atau tren beli) jangka menengah bila mampu bergerak konsisten di atas kisaran Rp640 selama 7 hari sesi perdagangan.  Bila hal ini terjadi, maka indikator garis MA-Signal akan terangkat dan sekaligus menembus batas teknikal psikologisnya  untuk sekaligus membentuk tren penguatan jangka menengah.

Gerak naik yang masih berlangsung sehari, betapapun tajamnya, harus ditambah dengan faktor waktu untuk menguji  kekuatan tekanan beli yang tersedia.   Barangkali saham SMBR hendak mengikuti tren yang terjadi pada pola grafik IHSG dan sejumlah saham unggulan lainnya yang bersiap beralih membentuk tren penguatan jangka menengah. Namun 7 hari sesi perdagangan ke depan akan menjadi masa penentuan yang penting bagi saham SMBR untuk membuktikannya.

Happy Trading.