KPK memastikan pelacakan aset tidak akan terhambat meskipun nama Sjamsul tidak tertera dalam struktur organisasi perusahaan

Komisi Pemberantasan Korupsi akan melacak aset milik tersangka korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas BLBI, Sjamsul Nursalim dan istrinya, Itjih Nursalim.

Pelacakan ini dilakukan untuk memetakan aset-aset yang akan disita untuk mengembalikan kerugian negara sebesar Rp4,58 triliun dari kasus korupsi tersebut.

"Kami menelusuri aset-aset yang diduga terkait dengan tersangka dan juga pokok perkara ini. Sehingga saat prosesnya berlanjut KPK bisa maksimalkan asset recovery karena kerugian keuangan negara yang sudah dihitung Rp4,58 Triliun. Artinya apa, kami berharap Rp4,58 Triliun ini bisa dirampas untuk negara dan kemudian dikembalikan ke masyarakat," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta.

KPK memastikan pelacakan aset tidak akan terhambat meskipun nama Sjamsul tidak tertera dalam struktur organisasi perusahaan. Hal ini lantaran terdapat yang disebut beneficial owner atau pemilik sesungguhnya dari sebuah perusahaan.

"Aset itu bisa saja dalam bentuk apapun dan memakai nama siapapun. Apalagi kami ketahui ada yang disebut dengan BO, beneficial owner, yang bisa saja namanya tercantum atau tidak tercantum di sebuah struktur perusahaan. KPK pasti juga akan menelusuri informasi semua informasi yang ada terkait dengan kepemilikan aset," kata Febri.

Nama Sjamsul masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes pada 2018. Kekayaannya senilai US$ 810 juta atau setara Rp 11,34 triliun berupa aset di beberapa sektor. Bisnisnya menggurita di sektor properti, batu bara, dan ritel. Salah satu perusahaannya adalah perusahaan terbuka, PT Gajah Tunggal.

Dalam laporan keuangannya Gajah Tunggal menyatakan 49,5 persen sahamnya dimiliki Denham Pte Ltd, perusahaan yang berbasis di Singapura. Denham adalah anak usaha Giri Tire yang dikuasai oleh Sjamsul.

Dalam persidangan kasus BLBI yang digelar pada Juli 2018, Gajah Tunggal Group beserta anak usahanya menjadi salah satu aset milik Sjamsul yang menjadi jaminan untuk membayar utang BLBI. Sjamsul adalah salah satu obligor BLBI lewat Bank Dagang Nasional Indonesia yang juga miliknya.

Gajah Tunggal memiliki beberapa anak usaha, di antaranya PT Softex Indonesia, PT Filamendo Sakit, dan PT Dipasena Citra Darmadja.

Tak hanya Gajah Tunggal, Sjamsul juga menguasai saham Polychem Indonesia yang sebelumnya bernama GT Petrochem. Sebanyak 25 persen saham produsen poliester ini dimiliki Gajah Tunggal dan 10,42 persen dimiliki PT Satya Mulia Gema Gemilang.

PT Satya Mulia Gema Gemilang menguasai saham mayoritas Mitra Adiperkasa, usaha yang menaungi bisnis ritel seperti SOGO, Zara, Sport Station, Starbucks, Kinokuniya, SEIBU, hingga Burger King.

Sedangkan di bidang properti, Sjamsul Nursalim memiliki saham di Tuan Sing Holdings dan Gul Teek, Habitat Properties, perusahaan real estate di Singapura.