Soal transparansi besaran utang yang sesungguhnya dari China kini menjadi hal yang sangat serius.

Ramai-ramai soal bahaya utang atau pinjaman  yang datang dari China, nampaknya bukan masalah sepele. Sebuah kajian yang dilakukan menunjukkan, awal dari bahaya utang dari China bermuara pada transparansi.  Hal ini diungkap oleh Profesor Carmen Reinhart dari Kennedy School of Government, Harvard University.

Lebih rinci Reinhart menyatakan bahwa minimnya transparansi akan memunculkan risiko tidak diketahui risiko sesungguhnya beban dari suatu negara yang berutang pada China. Besaran utang dari China, tidak dilaporkan pada lembaga donor internasional seperti IMF atau pun Bank Dunia. Bila terjadi sebuah krisis di suatu negara, sementara besaran utang atau beban utang yang ditanggung sesungguhnya tidak diketahui, maka  langkah yang diambil IMF maupun Bank Dunia untuk mengatasi problem keuangan  juga akan sulit.

Sementara pada sisi lainnya, demikian lanjut Reinhart, besaran utang dari China yang tidak dipublikasi akan memunculkan gejolak di pasar internasional, di mana negara yang bersangkutan menerbitkan  surat utang. Investor yang hendak memegang surat utang tersebut menjadi tidak tahu risiko yang sesungguhnya dari surat utang yang dipegangnya, di mana hal ini pada gilirannya akan membuat semakin mahalnya biaya pinjaman  di pasar internasional untuk memantik krisis yang serius.

Timbunan utang yang sesungguhnya besar dan tidak dipublikasi akan memunculkan  banyak masalah yang rumit bila sebuah negara sedang terjebak dalam krisis keuangan.

Pernyataan dan pendapat  Reinhart ini sangat perlu dijadikan perhatian serius bagi sejumlah negara yang kini telah berlomba-lomba mengajukan pinjaman ke China untuk sejumlah proyek pembangunan. Hal ini merupakan konsekuensi dari munculnya China sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia. Kasus Venezuela yang kini masih harus bergulat dengan krisis maha berat, atau pun Pakistan yang juga memiliki timbunan utang yang mungkin sangat besar terhadap China, adalah contoh kasus yang paling nyata saat ini.  Catatan menunjukkan, Venezuela yang kini harus membayar utang ke China dalam bentuk produksi minyaknya, namun besaran serta jangka waktu  hingga kini masih belum terlihat jelas.

Membangun proyek infrastruktur dengan utang barangkali memang  sangat diperlukan, dan  bahaya utang dari China bisa ditepis dengan transparansi guna mencegah krisis yang tidak perlu terjadi.