Peralihan pola gerak nilai tukar Rupiah ke zona penguatan terlihat seiring dengan peralihan yang terjadi pada IHSG di bursa saham Indonesia.

Seiring dengan pola gerak yang terjadi pada indeks harga saham gabungan (IHSG) di bursa saham Indonesia, gerak nilai tukar mata uang Rupiah juga mampu  beralih ke zona penguatan setelah cukup konsisten menapak zona pelemahan. Sentimen dari ancaman Presiden AS Donald Trump yang akan segera menaikkan tarif masuk atas produk asal China bila dalam gelaran KTT G-20  Presiden China tak berhasil meraih kesepaktan dengan AS, terlihat masih menjadi perhatian investor.

Namun pelaku pasar masih mencoba untuk melihat hasil dari ancaman Trump tersebut sembari menantikan jalannya KTT G-20. Sementara pada sisi lainnya, sikap optimis investor yang masih cenderung bertahan menyusul berhasilnya indeks Wall Street menapak zona penguatan di sesi perdagangan kemarin.

Gerak menguat mata uang Asia akhirnya terjadi secara seragam, namun dalam rentang yang relatif terbatas.  Hingga sesi perdagangan sore ini berjalan, mata uang Asia tercatat hanya menyisakan Ringgit Malaysia yang melemah sangat tipis dan rentan untuk segerra beralih kembali ke zona penguatan.

Sedangkan seluruh mata uang Asia lainnya tercatat mampu bertahan di zona penguatan dalam kisaran ynag bervariasi. Mata uang Filipina, Peso, kali ini menahbiskan diri sebagai mata uang Asia yang membukukan penguatan paling tajam sebesar 0,4% untuk berada di posisi 51,88 per Dolar AS. Penguatan mata uang Asia kali ini juga terjadi pada mata uang China, Yuan yang dalam beberapa pekan terakhir telah sangat menderita akibat pukulan sentimen tensi dagang AS-China.

Terkhusus pada Rupiah,  gerak nilai tukar aklhirnya mampu beralih di zona positif setelah pada sesi perdagangan kemarin kisaran penguatannya berkurang secara signifikan di akhir sesi perdagangan. Terkini, Rupiah tercatat diperdagangkan di kisaran Rp14.230 per Dolar AS atau menguat 0,1% dibanding posisi penutupan sesi perdagangan hari sebelumnya.

Investor kali ini terlihat mampu menepis kekhawatiran serius dari ancaman Trump yang bersiap untuk menaikkan tarif masuk atas produk asal China lainnya.  Gelaran pertemuan KTT G-20 beberapa  hari mendatang di Jepang, akan menjadi pertaruhan, apakah sentimen ancaman Trump kali ini akan kembali menjadi mimpi buruk bagi pasar global.