Rusia sudah memulai menggandeng Huawei untuk pengembangan jaringan 5G

Meskipun masuk daftar hitam di Amerika Serikat, Huawei mendapat dukungan dari 30 negara. Bahkan perusahaan raksasa teknologi asal China itu memperoleh 46 kontrak 5G komersial di negara-negara tersebut.

Dilansir dari laman Economic Times, kontrak itu membuat Huawei muncul sebagai pemain top dalam perlombaan membangun sistem komunikasi super cepat meskipun ada larangan AS tentang penggunaan layanan 5G-nya.

Namun, tidak dijelaskan negara mana saja yang meneken kontrak dengan Huawei. Yang jelas Rusia pekan lalu menandatangani kontrak pengembangan jaringan 5G dengan Huawei.

Teknologi 5G adalah teknologi seluler generasi berikutnya dengan kecepatan unduh yang dinyatakan 10 hingga 100 kali lebih cepat daripada jaringan 4G LTE saat ini.

Huawei berada di bawah tekanan besar setelah AS menyatakan sistem Huawei dapat dimanipulasi oleh Beijing untuk memata-matai negara lain dan juga mengganggu komunikasi penting.

Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China pada Kamis, 6 Juni 2019, memberikan lisensi 5G penggunaan komersial kepada empat raksasa telekomunikasi milik negara untuk mulai meluncurkan layanan 5G. Hal itu menandakan tekad Beijing untuk menjadi pemimpin global dalam membangun jaringan nirkabel super cepat.

Huawei mengatakan siap untuk penggunaan komersial 5G China. Pada Februari tahun lalu, mereka membuat panggilan 5G pertama di dunia dan meluncurkan perangkat terminal 5G pertama.

Huawei terperangkap dalam perang dagang antara China dan AS setelah Presiden Donald Trump mengenakan tarif US$ 200 miliar untuk barang-barang China, dan mendorong Beijing untuk menaikkan bea masuk atas produk-produk AS senilai US$ 60 miliar.

Perselisihan telah berkembang menjadi perang teknologi dengan AS mendesak negara-negara Eropa untuk menghindari Huawei di jaringan 5G.

Terlepas dari kecepatan mengunduh dan mengunggah data yang jauh lebih cepat, teknologi 5G menjanjikan jangkauan yang lebih luas dan koneksi yang stabil.

Beberapa negara, termasuk Australia dan Selandia Baru, telah memblokir Huawei sebagai pemasok peralatan untuk jaringan seluler 5G.

Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin mendukung Huawei dengan mengatakan bahwa tindakan negara-negara barat yang dipimpin oleh AS adalah upaya untuk mendorong perusahaan China itu keluar dari pasar global yang merupakan awal dari perang teknologi.