Kendati memuat konten disinformasi, warganet tetap beramai-ramai mendatangi kanal-kanal tersebut.

Mungkin ini salah satu alasan bagi orang yang gemar menyebar berita bohong alias hoaks. Mereka bisa bisa meraup uang hingga triliunan rupiah.

Seperti yang dilakukan belasan kanal YouTube di Rusia. Unggahan video mereka yang berisi berita hoaks di YouTube berhasil mengantongi jutaan dolar Amerika Serikat dari iklan di YouTube. Tentunya hal ini bertentangan dengan kebijakan YouTube sebagai layanan video terbesar di dunia.

Dilansir Reuters, sebanyak 14 kanal tersebut, termasuk kanal baru NTV dan Russia-24, memuat informasi hoaks mengenai politisi AS yang melindungi sekelompok pengepul organ tubuh manusia, sampai dengan kejatuhan ekonomi di negara-negara Skandinavia.

Kendati memuat konten disinformasi, warganet tetap beramai-ramai mendatangi kanal-kanal tersebut. Begitu juga perusahaan-perusahaan asal AS dan Eropa yang tetap memasang iklan.

Salah satu penelitian yang belum dipublikasikan oleh Omelas, sebuah perusahaan asal Washington, AS, yang menelusuri jejak ekstremis daring, memberikan pandangan yang sangat komprehensif mengenai keberhasilan pemerintah Rusia dalam menarik penonton dan meraup pundi-pundi dari propaganda hoaks via YouTube, dengan 2 miliar penonton bulanan dari seluruh dunia.

YouTube yang merupakan perusahaan milik Alphabet Inc, mengeluarkan kebijakan pada Februari 2018 untuk mengidentifikasi saluran-saluran, terutama yang memuat item-item baru dan secara keseluruhan atau pun sebagian didanai oleh pemerintah, dalam rangka membantu pengguna menentukan konten yang layak dilihat.

YouTube mengatakan pihak Rusia sendiri menyangkal telah mengucurkan dana kepada 14 kanal tersebut. Selain itu, 12 sponsor yang mendanai saluran yang teridentifikasi oleh Omelas telah melakukan penyesatan tersebut telah dilabeli sebagai sponsor resmi negara.

Secara kolektif, sebanyak 26 saluran telah menarik 9 miliar penonton sejak Januari 2017 sampai Desember 2018. Selain itu, sebanyak 24 kanal Rusia yang tidak memiliki sangkut paut dengan konten-konten disinformasi itu berhasil meraup 4 miliar penonton.

Omelas memperkirakan sebanyak 13 miliar penonton tersebut dapat menghasilkan lebih dari USD 58 juta atau sekitar Rp 817 miliar (kurs Rp 14.100) dari iklan, termasuk beberapa pengiklan dari Barat.

Rusia pun diperkirakan bisa memperoleh USD 7 juta hingga USD 32 juta melalui pembagian pendapatan YouTube, sedangkan YouTube sendiri dapat mengantongi USD 6 juta hingga USD 26 juta.

Namun sejauh ini masih sulit untuk dilakukan analisa lebih lanjut karena YouTube hanya membagikan sedikit data mengenai jumlah penonton dan angka penjualan.