Ford mengklaim penutupan pabrik mesinnya di Inggris sebagai upaya peningkatan efisiensi operasi bisnisnya di kawasan Eropa.

Sebuah laporan akhirnya mengkonfirmasi rencana penutupan pabrik permesinan milik perusahaan otomotif asal Amerika Serikat di Inggris, Ford. Laporan lebih jauh menyebutkan, penutupan pabrik mesin tersebut  sebagai pilihan sulit yang harus diambil Ford merespon serangkaian perkembangan terkini.

Pihak pimpinan Ford di Inggris dilaporkan tengah berkonsultasi atas keputusan penutupan pabrik tersebut.  Pabrik mesin Ford yangbberlokasi di Bridgend dan te;ah berditri sejak 1977 tersebut terpaksa ditutup pada September tahun depan sebagai konsekuensi dari sejumlah faktor.  Laporan lebih jauh juga menyatakan Ford yang harus merogoh kocek $650 juta (setara dengan Rp9,1 triliun) sebagai biaya penutupan pabrik tersebut dengan sekitar dua pertiganya habis untuk memberikan kompensasi pada karyawannya yang harus diberhentikan. Pabrik Ford, disebutkan telah memiliki 1.700 karyawan di Inggris dan Inggris sejauh ini diklaim sebagai  pasar terbesar Ford untuk kawasan Eropa.

Langkah yang diambil Ford ini menjadi pukulan berat bagi kinerja perekonomian Inggris, setelah sebelumnya pabrikan otomotif asal Jepang, Honda yang telah melakukan langkah serupa. Dalam sejumlah kesempatan pihak Honda mengklaim bahwa penutupan pabrik tersebut bukan terkait dengan Brexit yang hingga kini prosesnya masih berlarut dan tak pasti.

Dalam sebuah keterangan yang beredar menyebutkan, alasan penutupan pabrik Ford kali ini sebagai bagian dari transformasi bisnis untuk meningkatkan efisiensi operasi bisnisnya di kawasan Eropa. Penutupan Ford dalam sejumlah kabar yang beredar juga disebut menyalahkan kehilangan kontrak yang cukup besar untuk memasok produk mesin Jaguar Land Rover.

Kabar pahit penutupan pabrik Ford di Inggris  kali ini  menjadi semakin pahit karena bersamaan  dengan kunjungan Presiden AS Donald Trump, yang sedang mendorong Inggris untuk keluar dari Uni Eropa (atau sering disebut Brexit) tanpa kesepakatan dan sekaligus menjalin aliansi ekonomi yang lebih kuat dengan Amerika Serikat.

Gulung tikarnya Ford di AS kali ini, memang barangkali tidak terkait sama sekali dengan proses Brexit, namun imbas bagi perekonomian Inggris tetap saja sangat berat, sebagaimana  pukulan sebelumnya yang telah terjadi dari hengkangnya raksasa otomotif Honda.