Mengawali sesi perdagangan saham hari kedua pekan ini, Selasa (4/6), gerak indeks di bursa saham utama Asia terlihat berupaya untuk melakukan rebound teknikal usai terpangkas curam di sesi perdagangan hari sebelumnya. Namun gerak naik yang terjadi terlihat masih terlalu rentan untuk segera beralih  di zona merah.

Sebagaimana dimuat  dalam laporan sebelumnya, sentien yang membayangi investor di sesi perdagangan kali ini yang masih belum cukup beranjak dari kesuraman panasnya tensi dagang. Namun sentimen suram terkini datang dari AS di mana otoritas AS sedang menggelar penyelidikan tentang anti trust pada sejumlah perusahaan teknologi  terkemuka di bursa Wall Street. Kabar tersebut dengan cepat telah merontokkan sejumlah saham teknologi penting, seperti: Google, Amazon, Facebook, serta Apple.

Akibat dari keruntuhan saham-saham teknologi tersebut dalam kisaran yang tragis hingga di atas 5% membuat indeks Nasdaq tergelincir tak tertahankan di sesi perdagangan yang berakhir beberapa jam lalu.  Namun investro di Asia nampaknya masih mencoba menahan sikap pesimisme dengan berharap munculnya pertanda penurunan suku bunga oleh The Fed.  Hal ini sekaligus dijadikan pijakan rentan untuk melakukan gerak rebound.

Kerentanan tersebut akhirnya mengarahkan indeks di bursa Asia bergerak dalam rentang sempit dan mixed. Hingga ulasan ini disunting, indeks Nikkei (Jepang) beralih merah dengan turun 0,27% untuk berada di posisi 20.356,41, sementara indeks Hang Seng (Hong Kong) menguat 0,37% untuk berada di kisaran 26.994,08, indeks ASX 200 (Australia)  naik moderat 0,24% untuk menjangkau posisi 6.335,9, dan indeks KOSPI (Korea Selatan) yang terkikis 0,12% untuk berada di posisi 2.065,44.

Upaya investor di Asia untuk melakukan gerak rebound teknikal kali ini nampaknya masih belum mendaoatkan momentum, hal yang tak jauh berbeda juga terjadi di pasar valuta. Laporan terkini menunjukkan, gerak nilai tukar mata uangASia dalam mengawali sesi perdagangan pagi ini yang masih cenderung terjebak di zona pelemahan terbatas. Pantauan juga menunjukkan, hanya mata uang Ringgit Malaysia dan Rupee India yang masih mampu bertahan di zona penguatan. Selebihnya mata uangAsia terlihat masih harus bergulat di zona pelemahan.