Membuka sesi perdagangan saham awal pekan ini, Senin (3/6), indeks di bursa saham Wall Street terpantau masih berada dalam tekanan jual yang intens. Sentimen yang kini menjadi perhatian investor beralih ke kesuraman yang lain di mana pihak regulator AS disebutkan berniat melakukan penyelidikan anti trust terhadap sejumlah perusahaan teknologi terkemuka  yang tercatat di bursa Wall Street.

Laporan tersebut akhirnya  kembali menbuat sejumlah saham terkemuka tergelincir dalam rentang yang tragis. Saham-saham seperti Alphabet (induk dari perusahaan raksasa pencari di dunia maya, Google), Apple, Facebook, serta Amazon mengalami keruntuhan yang tak tertahankan.  Akibat kerontokan saham-saham terkemuka terserbut, indeks Nasdaq secara tak tertahankan mengalami penurunan curam.

Sentimen ini sekaligus menjadi sentimen muram tambahan setelah sebelumnya sentimen dari kebijakan keras Trump terkait dengan tensi dagang mengurung bursa Wall Street dalam kecemasan. Indeks DJIA terlihat masih mampu bertahan di zona positif dengan menguat sangat tipis 0,02% untuk berakhir di kisaran 24.819,78, sementara indeks S&P 500 terkelups 0,28% untuk terhenti di posisi 2.744,45, serta indeks Nasdaq yang tersungkur 1,61% untuk menteap di kisaran 7.333,02.

Dalam sesi perdagangan yang berakhir beberapa jam lalu tersebut, investor juga disebutkan masih menantikan sejumlah pertanda potensi bagi bank sentral AS untuk melakukan penurunan suku bunga acuan menyusul imbas dati memanasnya tensi dagang terhadap kinerja perekonomian AS.  Namun hingga berakhirnya sesi perdagangan, sinyal atau pun pertanda tersebut masih jauh hingga penurunan indeks kukuh.

Dengan bekal sentimen terkini dari bursa  Wall Street, sesi perdagangan saham di Asia kini masih menapak keraguan dan mungkin cenderung untuk berada dalam tekanan jual.  Terlebih pada sesi perdagangan kemarin, gerak indeks di Asia terlihat masih berupaya untuk menahan tekanan jual. Namun peluang indeks untuk beralih ke zona positif juga terbuka mengingat dalam beberapa hari sesi terakhir indeks di Asia telah mengalami penurunan yang cukup dalam.

Secara keseluruhan, sentimen di Asia hingga kini masih didominasi dengan kebijakan dan keputusan mengejutkan yang datang dari Presiden AS Donald Trump.