Kemerosotan harga minyak dunia nampaknya tidak memandang waktu, di tengah datangnya masa lebaran pantauan terkini dari pasar Asia pagi ini, Senin (3/6) gerak harga minyak kembali merosot tajam.  Laporan menyebutkan, kemerosotan harga minyak kali ini yang terutama disokong oleh kekhawatiran yang berlanjut terhadap prospek kinerja perekonomian global menyusul sentimen kejutan dari Presiden As Donald Trump.

Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, Langkah kejutan yang kembali datang dari Presiden Trump yang menaikkan tarif masuk atas produk asal Meksiko sebesar 5%. Trump dalam keputusan yang sama juga mengancam akan terus menaikkan tarif masuk atas produk asal Meksiko hingga mencapai 25% bila negeri tetangganya itu gagal mengurangi secara substansial arus imigran di perbatasan dengan AS.

Praktis langkah dan kebijakan yang diambil Trump tersebut memicu kekhawatrian investor akan  meluasnya perang dagang yang disulut oleh Trump. Untuk dicatat, pukulan kejutan Trimp sebelumnya yang telah menghempas butsa saham global dengan secara mendadak menaikkan tarif masuk atas produk asal China menjadi sebesar 25%.  Pelaku pasar kini dicekam kekhawatiran bahwa perang dagang yang disulut Trump akan terus meluas dan pada akhirnya semakin mengancam kinerja pertumbuhan ekonomi global.

Komoditas minyak yang merupakan komoditas strategis bagi pertumbuhan ekonomi dinilaoi sangat rawan bila terjadi perlambatan ekonomi global. Gerak turun harga minyak akhirnya terus terjadi hingga sesi pagi ini di Asia. Hingga ulasan ini disunting, harga minyak (untuk jenias WTI) terpantau telah berada di kisaran $52,9 per barel atau merosot curam 1,05% setelah dalam sesi sepanjang pekan lalu tersungkur hingga kisaran 10%.

Dalam tinjauan teknikal sebelumnya telah ditekankan, bahwa pola teknikal yang terbentuk menunjukkan tren jual yang masih berlaku. Namun gerak turun curam yang terjadi dalam sepekan terakhir telah membuat tren jual tersebut kini menjadi semakin solid. Solidnya tren jual pada harga minyak dengan sendirinya menandakan prospek muram dalam beberapa hari dan bahkan pekan sesi perdagangan ke depan.  Langkah dan kebijakan pemangkasan pasok oleh OPEC dan sejumlah negara produsen besar minyak dunia kini menjadi kritis dalam menanggulangi kesuraman harga minyak pekan ini.