Dalam sejumlah analisis yang berkembang akhir-akhir ini muncul dugaan bahwa Amerika Serikat maupun Rusia yang berniat melemahkan Uni Eropa. Dugaan tersebut barangkali masih terlalu jauh dan berlebihan. Namun serangkaian kabar terkini yang muncul bisa jadi sejumlah pihak mesti berubah pikiran.

Sebuah laporan terkini menyebutkan, Presiden AS Donald Trump yang menjelang kunjungan kenegaraannya ke Inggris menyatakan dorongannya agar Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan. Sikap Trump ini juga seiring dengan pernyataan sebelumnya yang mendukung Boris Johnson untuk maju menggantikan Theresa May yang mundur sebagai Perdana Menteri Inggris.  Boris Johnson sebelumnya juga dikenal sebagai tokoh yang menggaungkan keluarnya Inggris dari Uni Eropa tanpa kesepakatan.

Dalam berulangkali kesempatan, Trump juga menunjukkan dukungannya secara terang terhadap Boris Johnson dan mengkritik Perdana Menteri May.  Laporan terkini menyebutkan, dorongan Trump agar Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan dilatari agar Inggris mencapai kesepakatan perekonomian dengan Amerika Serikat.

Langkah dan ambuisi Trump ini tentu saja menjadi dua pukulan yang sekaligus, di satu sisi akan cukup merentankan jalinan dan ikatan Uni Eropa, mengingat Inggris sejauh ini merupakan negara penting dan terkemuka dalam bidang perekonomian di kawasan Eropa, sementara di sisi lainnya langkah Trump akan semakin mengukuhkan perekonomian AS yang mendapatkan mitra penting dan cukup besar, yaitu Inggris.  Ikatan perekonomian AS-Inggris tentu akan menjadikan sebuah kekuatan besar mengingat Amerika Serikat hingga kini masih menahbiskan diri sebagai perekonomian terbesar dunia.

Para pemimpin Uni Eropa, kini nampaknya harus mempertimbangkan dengan cermat, langkah  dan ambisi Trump.  Proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (atau lebih dikenal dengan istilah Brexit)  yang terus berlarut hingga memaksa Perdana Menteri May mundur, kini seakan menjadi kartu mati bagi sejumlah pimpinan Uni Eropa dalam menghadapi permainan kartu truf milik Trump.

Trump sekali lagi, memang hebat dan tidak diduga strategi kejutannya, setelah sebelumnya membuat China dan Meksiko kelabakan disengat tarif masuk, kini giliran Eropa yang harus menghadapi permainan dan strategi canggihnya.