Serangkaian laporan terkini menunjukkan, gerak nilai tukar mata uang China, Yuan yang masih terus meluncur turun. Pantauan terkini menunjukkan, posisi nilai tukar Yuan yang berada di kisaran 6,9376 per Dolar AS, atau telah semakin dekat dengan level psikologisnya di kisaran 7,0.  Pergerakan melemah nilai tukar Yuan kini semakin disorot oleh investor mengingat sejumlah faktor penting.

Faktor pertama datang dari ancaman kinerja  sejumlah besar perusahaan China yang kini masih menanggung beban utang dalam mata uang Dolar AS untuk melakukan ekspansi.  Bila nilai tukar Yuan terus melemah, kinerja sejumlah perusahaan di China tersebut akan dengan sendirinya terpukul hingga pada akhirnya mengancam kinerja perekonomian China secara keseluruhan.

Sementara pada sisi lainnya pelemahan Yuan akan memberikan keuntungan bagi China dalam menghadapi penaikan tarif masuk oleh AS, risiko pelemahan Yuan justru bisa semakin serius bila sejumlah perusahaan asal China gagal membayar utangnya dalam Dolar AS yang telah semakin membubung tinggi.  Faktir berikutnya datang dari risiko pelarian modal asing dalam jumlag yang sangat besar, sebagaimana pernah terjadi pada tahun 2015 lalu ketika  pemerintah China secara mengejutkan melakukan langkah devaluasi terhadap Yuan.

Bila pelarian modal ini berlangsung semakin besar akibat pukulan tensi dagang dengan AS, maka kinerja perekonomian China akan semakin terperosok dalam kesuraman. Muramnya prospek perekonomian China ini pada gilirannya berkontribusi pada faktor berikutnya yaitu efek berantai pada perekonomian sejumlah negara yang terkait dengan China.

Sejumlah negara yang selama ini telah terlanjur menjadikan China sebagai mitra perekonomian terbesarnya akan dengan mudah turut terseret dalam pelemahan Yuan. Mata uang Asia, di mana sejumlah besar cukup bergantung pada pasar China diyakini akan terseret dalam gerak pelemahan.  Tak terkecuali dengan mata uang Rupiah, di mana dalam beberapa tahun terakhir Indonesia telah cukup besar menjadikan China sebagai mitra ekonominya.  Pelemahan Yuan, akan cenderrung menjadi tekanan jual bagi Rupiah yang pada sesi perdagangan pekan lalu secara mengejutkan melompat fantastis.

Dalam jangka menengah, pelemahan Yuan akan menjadi ancaman bagi Indonesia, mengingat Rupiah yang terseret melemah akan dengan sendirinya mengganggu kinerja perekonomian Indonesia yang dalam bagian signifikan  juga ditopang oleh utang dalam Dolar AS.