Mengawali sesi perdagangan awal pekan ini, Senin (3/6), bursa saham Asia akhirnya tidak memiliki  pilihan kecuali mengikuti jejak koreksi muram dari indeks Wall Street di sesi akhir pekan lalu.  Sentimen kejutan yang datang bertubi dari Gedung Putih di mana keputusan Presiden AS Donald Trump akan menaikkan tarif masuk atas produk asal Meksiko sebesar 5% dan berpeluang untuk terus menaikkan hingga mencapai 25% telah membakar kepanikan pelaku pasar.

Investor semakin khawatir, setelah sebelumnya keputusan keras serupa dari Trump kepada China telah dengan cepat berimbas pada muramnya kinerja perekonomian global. Perluasan tensi dagang yang suram dan akirnya semakin menyuramkan kinerja perekonomian globala menjadi perhatian besqar investor dan aksi tekanan jual akhirnya menjadi pilihan yang paling mungkin.

Tekanan jual tersebut akhirnya berlanjut di sesi perdagangan pagi awal pekan ini di Asia hingga memangkas posisi indeks dalam rentang signifikan. Hingga ulasan ini disunting, indeks Nkkei (Jepang) tercatat telah merosot 1,12% untuk berada di posisi 20.371,21, sementara indeks ASX 200 (Australia) terkoreksi curam  0,68% untuk menjangkau posisi 6.353,6, serta indeks KOSPI (Korea Selatan) yang mencoba beralih positif setelah sempat melorot dengan  naim sangat tipis 0,06% untuk berada di kisaran 2.042,9.

Pelaku pasar secara keseluruhan masih cenderung untuk berada di sikap pesimis menyusul serangkaian sentimen terkini yang hadir. Sentimen tensi dagang yang berpusat dari pernyataan dan keputusan Presiden Trump masih  mendominasi perhatian investor. Sementara pada sisi lainnya, sesi perdagangan pagi ini juga akan diwarnai dengan penantian investor atas rilis data indeks aktivitas manufaktur China yang akan dilakukan pada jam 09 WIB nanti.

Kinerja aktivitas manufaktur China (lebih sering disingkat sebqagai indeks PMI) kini menjadi sorotan mengingat pecahnya perang dagang dengan AS diyakini akan kembali menghantarkan aktivitas industri China memasuki kontraksi untuk kemudian menyeret perlambatan ekonominya dengan kisaran tajam. Sorotan terhadap rilis data indeks PMI China ini akan sekaligus menjadi penentuan arah gerak indeks di bursa saham Asia di awal pekan ini, karena indeks PMI akan dijadikan petunjuk penting seberapa besar   tensi dagang dengan AS  yang telah disulut dan dihentak oleh Trump mampu memukul kinerja perekonomian China.  Hentakan Trump nampaknya masih akan menyita perhatian investor di sepanjang sesi perdagangan pekan ini.