Keberuntungan seakan sedang hinggap bagi perekonomian nasional dalam sesi perdagangan pekan ini. Setelah dalam empat pekan sebelumnya  secara beruntun gerak nilai tukar mata uang Rupiah begitu suram menapak pelemahan, harga minyak dunia yang dibutuhkan juga masih belum jinak di level tingginya di kisaran $60-an per barel (untuk jenis WTI). Bila hal ini terjadi sacara berlarut, tentu pemerintahan Presiden Jokowi harus memutar otak dengan sangat keras hingga mengerutkan kening.

Namun sesi perdagangan akhir pekan ini menunjukkan prospek yang cerah, setelah dipicu oleh keputusan salah satu  lembaga pemeringkat  utang terkemuka dunia, S&P yang menaikkan peringkat utang Indonesia. Keputusan S&P kemudian berbarengan dengan keputusan keras Presiden AS Donald Trump  terhadap Meksiko yang memantik kekhawatiran perang dagang yang meluas hingga akan memukul operekonomian jatuh dalam resesi.

Sementara keputusan S&P telah membuat nilai tukar Rupiah melompat tinggi tak tertahankan, untuk kini berada di kisaran Rp14.270 per Dolar AS, langkah keras Presiden Trump terhadap Meksiko telah berhasil merontokkan harga minyak dunia dalam kisaran tragis hingga 5,5% untuk kini berada di $53,5 per barel.

Gabungan dari melonjaknya nilai tukar Rupiah yang sangat tajam  dengan runtuhnya harga minyak dunia, tentu akan memberikan “Kado THR” yang sangat manis bagi  pemerintahan Jokowi menjelang jatuhnya lebaran pekan depan. Kerja keras Presiden Jokowi beserta jhajaran kementeriannya memang masih harus terus digalang, terutama kinerja inflasi dan defisit neraca dagang yang dalam sebulan terakhir telah menghempas Rupiah dalam kesuraman yang dalam.

Namun setidaknya, kombinasi dari keputusan S&P dengan keputusan keras Trump telah mengurangi beban dalam jumlah signifikan bagi pemerintahan Jokowi.  Sekedar catatan, pola gerak harga inyak kini telah berada dalam tren jual yang solid akibat dari gerak turun cueram dalam beberapa hari sesi perdagangan terakhir pekan ini. Hal ini sekaligus menyiratkan prospek untuk turun lebih lanjut harga minyak dunia. Sementara pada sisi Rupiah, tren pelemahan kini telah terhenti dan memasuki fase ketiadaan tren. Bila penguatan Rupiah mampu berlanjut, sangat mungkin akan mampu dengan cepat berbalik membentuk tren penguatan jangka menengah.

Bila Tren penguatan Rupiah terjadi, sementara tren pelemahan harga minyak masih bertahan, tentu sebuah situasi ideal bagi kinerja perekonomian nasional ke depan. Dan Presiden Jokowi tentunya memang lagi hoki  dengan situasi Rupiah dan harga minyak kali ini.