Gerak harga emas dunia akhirnya mulai melepaskan diri dari “kutukan” tingginya indeks Dolar AS. Sebagaimana dimuat dalam sejumlah ulasan teknikal sebelumnya, harga emas yang masih tertahan di lebel rendahnya menyusul sentimen tingginya posisi indeks Dolar AS. Namun seperti telah ditekankan dalam sejumlah ulasan teknikal, bahwa mengandalkan sentimen indeks Dolar sebagai patokan memperkirakan harga emas akan sangat berisiko.

Hal tersebut terbukti dalam sesi perdagangan akhir pekan ini, Jumat (31/5). Laporan terkini menunjukkan, harga emas yang kini trerhenti di kisaran $1.310,2 per Ounce atau me,ompat fantastis 17,8%.  Sementara pada sesi perdagangan yang sama penurunan indeks Dolar AS hanya mencapai 0,54%. Oleh karenanya, pola gerak harga emas kini telah mulai melepaskan diri dari bayangan sentimen kukuhnya indeks Dolar AS di level tinggi.

Sebagaimana dimuat dalam sejumlah laporan  di media  internasional, gerak naik fantastis harga emas kali ini yang lebih tersokong oleh sentimen kepanikan pasar terhadap rawannya kinerja perekonomian masuk dalam resesi. Laporan lebih lanjut menyatakan, keputusan keras Presiden AS Donald Trump dengan mengenakan tarif masuk atas produk asal Meksiko sebesar 5% diyakini akan memperluas cakupan perang dagang setelah sebelunnya pecah dengan China. Trump dalam keputusan terkininya juga mengancam Meksiko dengan menaikkan lebih lanjut tarif masuk hingga mencapai 25% bila negeri tetangganya itu tak juga mampu mengurangi secara substansial arus imigran di perbatasan.

Kontan keputusan Trump tersebut menbuat panik pelaku pasar bahwa perekonomian AS sangat rentan memasuki resesi. Hal ini mengingat, sentimen sebelumnya datang dari terjadinya inversi kurva pada surat utang AS yang masih bertahan hingga sesi perdagangan pekan ini. Inversi surat utang pemerintah AS ini diyakini menjadi pertanda penting akan terjadinya resesi pada perekonomian AS.

Keputusan keras Trump yang juga sangat mengejutkan itu akhirnya menjadi pemicu kekhawatiran akan resesi yang semakin membesar.   Investor akhirnya mulai melepas aset berisiko dan mulai beralih ke aset yang aman, dan komoditas Emas menjadi target perburuan selain mata uang Yen (Jepang). Perburuan pada Emas  pada gilirannya me,onjakkan harga secara tak tertahankan, terlebih dalam beberapa sesi perdagangan sebelumnya potensi kenaikan harga emas telah terhambat atau tertahan oleh sentimen tingginya indeks Dolar AS.  Melonjaknya harga emas dalam kisaran yang fantastis dan terlalu jauh dibandingkan dengan penurunan posisi indeks Dolar AS, sekaligus  membuktikan bahwa sentimen yang selama ini dijadikan landasan dari indeks Dolar, sangat berisiko sebagaimana dimuat dalam ulasan teknikal sebelumnya.