Sentimen yang sedang hinggap benar-benar mengejutkan investor di sesi perdagangan akhir pekan ini. Tensi dagang yang kembali dikhawatirkan semakin memanas menjadi kenyataan. Setelah bursa saham berguguran dan nilai tukar mata uang utama dunia  berjatuhan, kini giliran pasar komoditas penting yang harus turut terseret suram.

Pantauan terkini menunjukkan, harga minyak yang kembali runtuh dalam menutup sesi perdagangan pekan ini, Jumat (31/5). Harga minyak untuk jenis WTI tercatat terhenti di kisaran $53,5 per barel setelah runtuh 5,5%.  Keruntuhan tragis harga minyak ini sekaligus menghantarkan pembentukan tren jual jangka menengah harga minyak.

Sentimen yang melatari keruntuhan harga minyak kali ini datang dari keputusan mengejutkan dari Presiden AS Donald Trump  yang secara mendadak mengenakan  tarif masuk atas produk asal Meksiko sebesar 5%. Trump juga mengancam, bila Meksiko tak juga mampu mengurangi secara substansial arus imigran ke perbatasan AS, penaikkan taruif masuk akan bertambah hingga mencapai 25%.

Ancaman dan keputusan Trump yang sangat tegas dan keras itu tak pelak langsung memantik kekhawatiran pasar bahwa memanasnya tensi dagang dengan China kini bertambah dengan Meksiko. Tensi dagang yang semakin memanas tentu  diyakini akan semakin mengancam kinerja perekonomian jatuh dalam resesi. Jatuhnya resesi, pada akhirnya akan memangkas permintaan minyak dan oleh karenanya investor mengantisipasinya dengan melakukan tekanan jual terlebih dulu.

Hasilnya, gerak harga minyak rontok tak tertahankan  dalam menutup sesi perdagangan pekan ini.  Kerontokan harga minyak akibat keputusan keras Trump seakan menjadi ironi, mengingat sebelumnya ketika harga minyak melompat tak tertahankan, Trump memprotes sejumlah negara pentolan OPEC (organisasi kartel minyak dunia yang dikomandoi Arab Saudi). Namun protes Trump tersebut terlihat tak digubris oleh sejumlah negara produsen besar minyak dunia atau OPEC sekalipun, alias sia-sia.

Kini, dengan keputusan keras Trump hanya pada salah satu negara mitra dagangnya saja, yaitu Meksiko  Trump tak perlu lagi memprotes keras OPEC untuk menurunkan harga minyak.  Harga minyak telah rontok tragis dan Trump tak perlu lagi mengeluarkan energi lebih untuk memprotes OPEC guna menurunkan harga minyak.

Trump memang hebat, sekalipun tak terlalu bahagia dengan dengan keruntuhan harga minyak dunia kali ini, karena ancaman resesi tentu bukanlah keinginan presiden yang terkenal dengan langkah kejutannya itu.