Tren jual saham BBRI masih cukup solid di tengah gerak naik tajam yang terjadi dalam dua hari secara beruntun.

Sentimen dari aksi demo 22 Mei lalu yang telah berhasil menekan IHSG, terlihat tak terlalu berpengaruh pada gerak harga salah satu saham yang paling difavoritkan. Adalah saham milik PT Bank Rakya Indonesia Tbk, yang justru mampu melakukan gerak naik tajam dan konsisten dalam dua hari sesi perdagangan terakhir. Saham yang diperdagangkan dengan kode BBRI tersebut, pada pertengahan sesi pagi ini, Kamis (23/5), terlihat kembali menguat di tengah melonjak tajamnya IHSG.   

Pada ulasan teknikal edisi 20 Mei lalu telah ditekankan,  bahwa tren jual jangka menengah yang mendera saham BBRI masih solid. Hanya saja dengan terjadinya kompresi antara indikator titik P-Sar dengan garis MA-Signal, risiko untuk mengakhiri tren jual mulai muncul.  Dan gerak naik dalam dua hari sesi perdagangan secara beruntun bisa jadi  pertanda awal dari risiko tersebut.  Meski demikian, investor masih membutuhkan waktu tambahan untuk lebih memastikan ke mana arah gerak sasham yang terkenal dengan rekam jejak dan kinerja keuangan yang mengesankan ini.

Berikut kembali disajikan grafik harian terkini saham BBRI beserta sejumlah indikator teknikalnya:

Sebagaimana dimuat dalam ulasan teknikal sebelumnya, pola grafik di atas memperlihatkan mulainya kompresi pada  jarak yang terentang antara indikator garis MA-Signal dengan titik P-Sar mendekati puncaknya. Namun karena gerak turun terjadi semakin tajam dalam sepekan sesi terakhir, membuat jarak yang terentang antara garis MA-Signal dengan batas teknikal psikologisnya masih melebar. Akibatnya, kompresi yang terjadi pada jarak antara indikator titik P-Sar dengan garis MA-Signal kini mentah, dan tren jual saham BBRI menjadi solid.

Situasi teknikal demikian merupakan kabar yang suram bagi investor yang masih menahan saham BBRI di harga sebelumnya.  Rekam jejak serta kinerja keuangan yang mengesankan, kini harus berhadapan dengan situasi teknikal yang sangat serius dan sangat panas, dan investor yang berminat untuk melakukan aksi akumulasi, kini dianjurkan untuk terlebih dulu menantikan terjadinya kompresi pada jarak antara indikator garis MA-Signal dengan batas teknikal psikologisnya.

Gerak turun seberapa tajam pun, dalam situasi teknikal seperti ini bukanlah jaminan bahwa harga terendah telah tercetak. Gerak rebound usai terjadinya gerak turun tajam memang sangat mungkin akan mendera saham BBRI berkat rekam jejak dan kinerja keuangannya. Namun gerak rebound tersebut bukanlah jaminan bahwa tren jual telah berakhir. Gerak naik yang terjadi dalam dua hari sesi perdagangan terakhir, memang  cukup memberikan harapan, karena telah mendekati indikator garis MA-Signal. Namun lagi-lagi, masih membutuhkan waktu tambahan bagi BBRI untuk menguji apakah gerak balik kenaikan kali ini sebagai pertanda awal berakhirnya tren jual jangka menengah.

Happy Trading.