Gerak menguat tajam IHSG terlihat mencoba diikuti oleh nilai tukar Rupiah hingga pertengahan sesi perdagangan pagi ini, Kamis (23/5).

Menjelang pertengahan sesi perdagangan saham pagi ini di Jakarta, gerak indeks harga saham gabungan (IHSG) secara mengejutkan mampu membukukan lonjakan fantastis hingga lebih dari 1,3%. Dengan lompatan yang sangat tajam tersebut, IHSG kini telah berhasil menembus kembali level psikologisnya di kisaran 6.000-an.

Pantauan terkini menunjukkan, IHSG yang melambung 1,34% untuk berada di posisi 6.019,67. Gerak menguat tajam IHSG kali ini  terlihat sangat kontras dengan kecenderungan yang sedang mendera bursa saham Asia. Pantauan terkini dari sesi perdagangan saham di Asia menunjukkan, indeks Nikkei (Jepang) yang telah merosot tajam 0,82% untuk berada adi posisi 21.107,87, sementara indeks ASX 200 (Australia) terkikis 0,33% untuk menjangkaun posisi 6.489,2, serta indeks KOSPI (Korea Selatan) yang terpangkas 0,19% untuk berada di kisaran 2.060,96 dan indeks Hang Seng (Hong Kong) yang tersungkur 1,12% untuk berada di posisi 27.396,62.

Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, sentimen dari masih panasnya tensi dagang AS-China telah menjadikan investor di Asia jatuh dalam sikap pesimis sebagaimana telah mendera butsa Wall Street.

Sementara laporan dari pasar valuta menunjukkan gerak nilai tukar mata uang Rupiah yang masih terjebak di zona pelemahan hingga siang ini. Pantauan terkini menunjukkan, Rupiah yang ditransaksikan di kisaran Rp14.484 per Dolar AS atau bergerak flat setelah sempat mencetak titik terlemahnya di kisaran Rp14.520.

Gerak nilai tukar Rupiah dengan demikian mulai menunjukkan upaya beralih ke zona penguatan setelah sempat konsisten menapak pelemahan.  Positifnya sentimen bagi IHSG dan Rupiah diperkirakan datang dari mulai redanya  kerusuhan yang pecah pada aksi 22 Mei kemarin.  Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, pada sesi perdagangan kemarin gerak IHSG dan Rupiah yang telah terbebani oleh sentimen kerusuhan aksi 22 Mei di tengah sentimen tensi dagang yang masih menghadirkan tekanan jual bagi bursa saham global.

Gerak balik penguatan tajam yang mendera IHSG diperkirakan  sekedar momentum teknikal di mana dalam beberapa hari sesi perdagangan sebelumnya, tekanan jual telah membuat IHSG menurun terlalu cepat dan curam. Hal yang tak jauh berbeda kemungkinan juga mendera Rupiah.