Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan biaya operasional pada penerbangan, termasuk harga avtur dan nilai tukar rupiah.

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) berencana menutup sejumlah rute yang dianggap merugikan. Pemangkasan ini tak hanya untuk rute domestik, tapi juga untuk rute internasional.

Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara menjelaskan, keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan biaya operasional pada penerbangan, termasuk harga avtur dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Selain itu, penurunan tarif batas atas (TBA) harga tiket sebesar 15 persen juga menjadi alasan Garuda merombak rute penerbangannya.

Ari menjelaskan, pemberlakukan TBA dan Tarif Batas Bawah (TBB) hanya berlaku di Indonesia saja. Namun, hal itu dinilainya membuat maskapai nasional sulit berkompetisi di luar negeri karena terkena banyak komponen biaya yang membebaninya.

Di antara komponen biaya itu seperti pengenaan PPN avtur sebesar 10 persen dan leasing pesawat di Indonesia sebesar 10 persen. "Saya bukan mau protes tapi apa adanya," kata Ari di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (21/5).

Beberapa rute yang dianggap sudah terlalu membebani adalah rute-rute terpencil. Seperti misalnya ke Belitung, Garuda Indonesia diakuinya mengalami kerugian hingga US$ 1,3 juta per 6 bulan.

Ada pun penerbangan ke Pulau Morotai, Maumere, dan Bima, dikatakan Ari rutenya bakal ikut dikurangi. Sebab, harga avtur di daerah terpencil jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga avtur di kota-kota besar. "Perbedaan harganya bisa sebesar 80 persen," ujarnya.

Bukan hanya soal perbedaan harga bahan bakar, namun jam operasional bandara di daerah tersebut juga terbatas hingga sekitar pukul 16.00. Dengan begitu, biaya parkir pesawat dan kru yang menyertai penerbangan tersebut harus bermalam di daerah tersebut membuat komponen biayanya membengkak.

"Jadi, sungguh tidak menguntungkan saat harga tiket diturunkan. Kami tidak bisa beroperasi di tempat tertentu. Tapi kami pastikan jika diberi penugasan, kami siap," katanya.

Selain itu, pihaknya juga menutup penerbangan mancanegara yang tidak menguntungkan seperti rute Belitung-Singapura. Rute tersebut awalnya dibuka karena Kementerian Pariwisata menjanjikan bakal memberikan subsidi sebesar Rp 8 miliar sebulan.

Selain itu, Garuda juga menutup penerbangan Mumbai-Denpasar yang dijanjikan Kemenpar diberikan subsidi sebesar Rp 8 miliar untuk 6 bulan. Sayangnya, janji tersebut hingga kini belum terealisasi.

Garuda juga berencana untuk menutup penerbangan Jakarta-London karena sudah tidak memberikan subsidi dari penerbangan lain. Rencannya mereka bakal menutup rute tersebut setelah libur musim panas. Penerbangan selanjutnya yang bakal dikurangi rutenya yaitu penerbangan Jakarta-Amsterdam dari enam kali penerbangan menjadi tiga kali saja.

Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah menambahkan, menurut hitung-hitungan manajemen Garuda, jika saja TBA diturunkan hingga 35 persen, perusahaan bisa menderita kerugian hingga US$ 18 juta. Sementara jika penurunannya hanya 15 persen, perusahaan masih bisa impas.

"Tanggal 1-12 April kemarin diminta turun, kasih promosi sampai 35-50 persen. Itu kami rugi US$12 juta selama 12 hari," tuturnya.