Media China menilai isu transfer teknologi secara paksa yang digulirkan oleh AS sebagai tidak memiliki bukti.

Salah satu isu penting yang masih menjadi penghalang bagi tercapainya kesepakatan dagang AS-China yang selama ini disebut adalah Pemaksaan Transfer teknologi. Langkah pemaksaan transfer teknologi merupakan cara di mana agar perusahaan yang bermitra dengan perusahaan asal AS mengalami kemajuan. Hal tersebut sebelumnya diklaim sebagai salah satu kerisauan perunding dari AS.

Namun sebuah tulisa yang dimuat di salah satu media terkemuka China,   People Daily menyatakan bahwa isu tersebut bukanlah isu penting. Media yang juga merupakan corong pemerintah China itu lebih jauh menyebut,  bahwa hingga kini pihak AS masih belum memberikan bukti yang cukup terkait dengan pemaksaan transfer teknologi yang dirisaukan tersebut.

Melalui sebuah editorialnya edisi Sabtu (18/5) People Daily  mengklaim bahwa China tidak pernah memaksa perusahaan AS untuk menyerahkan teknologi yang dikuasainya ke pihak China. Klaim  bahwa AS harus menyerahkan tekhnologi yang dikuasainya ke China  dinilainya sebagai  argumen kuno yang digunakan oleh beberapa orang di Amerika Serikat untuk menghalangi perkembangan China atau sekedar omong kosong.

“Anggapan A.S. tentang transfer teknologi secara paksa  dapat digambarkan sebagai dibuat di atas fundamen logika yang janggal,”  demikian urai People Daily.  “Amerika Serikat hingga kini  belum dapat memberikan bukti untuk mendukung klaim tersebut.” Demikian tantang media itu. Lebih jauh People Daily menyebut bahwa  Amerika Serikat mendapat manfaat besar dari kerja sama teknologi dengan China selama ini dengan meraup $ 7,96 miliar dari  biaya penggunaan hak kekayaan intelektual hanya sepanjang  tahun 2016 saja.

Lebih jauh media China itu berpendapat, kerisauan Washington dalam perundingan dagang selama ini hanya disebabkan oleh kemampuan penelitian dan pengembangan China yang berkembang pesat.

Seperti diketahui, sistem politik di China yang otoriter di mana seluruh media dipastikan tak jauh dari penyampaian suara pemerintah atau penguasa. Tulisan editorial  yang dimuat dalam media China ini tentu juga merupakan bagian dari pendapat pejabat China dalam menyikapi perkembangan terkini dari gagalnya perundingan dagang AS-China.  Sikap melawan dan cukup keras sebagaimana terlihat dari editorial ini tentu mencerminkan sikap kesal pejabat China atas langkah keras yang telah dilakukan Presiden AS Donald Trump. Untuk dicatat, Trump yang sebelumnya secara mengejutkan mengumumkan penaikkan tarif masuk atas produk asal China senilai $200 milyar sebesar 25%. Keputusan itu didasari penilaian bahwa jalannya perundingan dagang dengan China sebagai terlalu lamban.