Harga minyak  kini hanya memerlukan berlarutnya perundingan dagang AS-China dalam kegagalan yang berujung dengan perang tarif untuk melakukan gerak turun curam.

Gerak harga minyak kembali mengalami penurunan di sesi perdagangan akhir pekan ini di tesngah saling bertentangannya sentimen yang hadir. Laporan sebelumnya menyatakan, persediaan minyak AS yang meningkat secara mengejutkan namun sentimen tersebut langsung terimbangi oleh sentimen ketegangan di Timur Tengah.

Seperti telah diwartakan sebelumnya, ketegangan telah pecah di Yaman, di mana kelompok Houthi mengklaim telah melakukan serangan Drone pada instalasi perminyakan milik Arab Saudi.  Serangan tersebut dengan jelas berpotensi akan sangat mengganggu pasokan minyak dunia hingga mengangkat harga minyak lebih tinggi.

Sejumlah laporan terkait sebelumnya menyatakan, Iran yang dituduh Arab Saudi sebagai pihak yang berada di balik serangan tersebut. Namun Iran menyatakan bantahannya hingga kini. Sedangkan dari Gedung Putih laporan menyebutkan, Presiden AS Donald Trump yang menolak untuk melibatkan Amerika Serikat dalam konflik terbuka  yang sedang pecah antara Iran dan Arab Saudi tersebut. Keengganan Trump ini terjadi di tengah realitas bahwa Arab Saudi sejauh ini merupakan sekutu penting Washington di Timur Tengah.

Gerak harga minyak dunia akhirnya jatuh dalam keragua, karena sejumlah sentimen yang saling bertentangan  yang tersedia terlihat sama kuat dan validnya. Namun secara keseluruhan, kisaran harga minyak yang berlaku sekarang, di mana ditutup di kisaran $62,71 per barel (untuk jenis WTI) terlihat masih berada di level tingginya.

Kemampuan minyak untuk bertahan di level tingginya ini setidaknya berkat sokongan dua sentimen fundamental sebelumnya yang masih berlanjut hingga kini. Sentimen pertama datang dari berhasilnya organisasi kartel minyak dunia, OPEC dalam menggalang pemangkasan produksi yang berlanjut hingga kini, sementara sentimen berikutnya datang dari kebijakan politik AS yang menargetkan sanksi pada dua negara produsen minyak besaer dunia, yaitu Iran dan Venezuela.

Kombinasi dari dua sentimen fundamental tersebut, hingga kini terlihat masih cukup ampuh untuk mempertahankan harga minyak berada di level tingginya. Sekalipun diterjang sentimen gagalnya perundingan dagang AS-China mencapai kesepakatan, kombinasi dua sentimen tersebut relatif mampu mengimbanginya. Harga minyak  kini hanya memerlukan berlarutnya perundingan dagang AS-China dalam kegagalan yang berujung dengan perang tarif untuk melakukan gerak turun curam.

Seperti dimuat dalam sejumlah laporan, perang tarif bila semakin meningkat antara AS dan China, diyakini akan memangkas kinerja pertumbuhan ekonomi global.