Lemasnya harga emas kali ini, dengan demikian masih cenderung  temporer.

Setelah berupaya kembali menembus level psikologis pentingnya di kisaran $1.300-an dalam beberapa hari sesi sebelumnya, gerak harga emas akhirnya kembali terkapar tak berdaya dalam menutup sesi perdagangan pekan ini, Jumat (17/5). Investor terlihat memberikan perhatian pada sentimen dari rilis data sentimen konsumen yang dila;porkan mencapai titik terttingginya dalam 15 tahun terakhir. Melonjaknya posisi sentimen konsumen ini seiring dengan tumbuhnya keyakinan pada prospek ekonomi AS di bulan Mei ini.

Rilis data ini akhirnya secara tak terhindarkan membuat investor melepas emas dan kembali ke mata uang kuat terutama Dolar AS. Sementara pada sisi lainnya, rilis data ekonomi yang positif ini juga semakin mengangkat posisi indeks Dolar yang sebelumnya telah terangkat oleh sentimen muramnya prospek di Eropa yang melemahkan mata uang Euro dan Poundsterling.

Pukulan telak akhirnya datang pada komoditas emas dari melonjaknya indeks Dolar dan rilis data ekonomi AS tersebut. Penurunan harga emas akhirnya tak terhindarkan dan kini telah berada di kisaran $1.277,4 per Ounce.

Untuk dicatat, melonjaknya  posisi indeks Dolar AS akan  berarti semakin mahalnya harga emas bagi mata uang di luar Dolar AS. Gerak turun harga emas saat indeks Dolar AS menguat oleh karenanya merupakan kewajaran. Namun penurunan semakin curam di akhir pekan ini akibat rilis data ekonomi yang mengesankan di AS yang semakin tersokong oleh muramnya situasi ekonomi-politik di Eropa.

Seperti diwartakan sebelumnya, kontestasi politik di Italia yang kini telah membuat kekhawatiran bagi investor sementara di sisi lainnya kinerja perekonomoian Jerman masih dalam bayang-bayang suram. Situasi ini masih ditambah lagi dengan proses Brexit yang semakin berlarut hingga kini.       

Akibat dari gerak turun curam yang terjadi pada harga emas kali ini, situasi teknikal masih menunjukkan fase ketiadaan tren, namun sentimen meningkatnya tensi dagang AS-China yang berlarut dan berpotensi memukul telak  kinerja perekonomian global diyakini setidaknya akan menghambat harga emas membentuk tren jual jangka menengah. Lemasnya harga emas kali ini, dengan demikian masih cenderung  temporer, sembari menantikan perkembangan terkini dari tensi dagang AS-China.