Bila tensi dagang terus memanas, maka imbas pada menurunnya peringkat utang China tak terhindarkan.

Sebuah laporan terkini terkait dengan memanasnya tensi dagang AS-China menyebutkan, gagalnya perundingan dagang akan dengan mudah mengancam peringkat utang China. Situasi ini merupakan pertanda sangat serius, mengingat reputasi dari transparansi pelaporan di China dinilai jauh dari memadai.

Sebuah lembaga pemeringkat utang, DBRS,  menyatakan, Perang dagang AS-China yang dapat merusak ekonomi China dan peringkat kreditnya jika terus berlanjut. Besaran utang China yang telah meningkat  dan  sxangat mungkin bagi pemerintah China untuk melakukan  pelonggaran moneter lebih banyak jika gagal mencapai kesepakatan dengan Gedung Putih. Peringatan dari DBRS  ini juga dibenarkan oleh lembaga pemeringkat utang lainnya yang menekankan memburuknya posisi China.

Laporan lebih jauh menyatakan, meningkatnya tensi dagang tidak saja merusak ekonomi China, melainkan juga berimbas pada peringkat utangnya. DBRS lebih jauh menyatakan, peringkat utang China masih tetap kuat meskipun kinerja ekonomi melemah dan terjadi perang tarif. Namun, jika kebuntuan berlarut-larut, kerusakan yang harus  ditanggung ekonomi China menjadi lebih besar dan mulai berimbas lebih serius.

Lebih tegas disebutkan: "Perang tarif merupakan hal  negatif bagi China terutama pada saat pemerintah  sedang memerangi masalah meningkatnya utang dan meningkatnya leverage dalam ekonomi,.. imbas pada perekonomian China akibat kenaikan tarif akan lebih luas daripada yang dialami AS."

Bila tensi dagang semakin memanas dan terus berlarut, peringkat utang China akan dengan sendirinya terganggu untuk mengalami penurunan. Bila hal tersebut terjadi, maka tingkat bunga akan meningkat dan akhirnya akan semakin memukul kinerja pertumbuhan ekonomi. Hal ini menjadi lebih parah ketika menuinjau besaran utang China yang kini mencapai $5,3 triliun yang setara  dengan 43% PDB.

Sekedar catatan,  DBRS yang merupakan lembaga pemeringkat utang terbesar  keempat di dunia. DBRS hingga kini masih menempatkan peringkat utang  China di level  "A," yang merupakan level tertinggi ketiga. Namun, DBRS baru saja mengubah prospek utang China   menjadi negatif karena masalah tarif menumpuk.

Situasi ini tentu saja akan menjadi masalah sangat serius, karena memanasnya tensi dagang dengan AS ternyata akan bisa memberikan pukulan yang lebih pahoit dan belum diperkirakan sebelumnya. Turunnya peringkat utang yang akan berimbas pada kenaikan suku bunga, pada akhirnya akan memukul kinerja pertumbuhan ekonomi yang dalam beberapa bulan terakhir telah dikhawatirkan melambat tajam.