Presiden Jokowi dinilainya terlalu berkompromi.

Presiden Joko Widodo resmi menetapkan sembilan nama anggota Panitia Seleksi (Pansel) Calon Pimpinan (Capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka nantinya akan memilih komisioner KPK periode 2019-2023.

“Ya kita harapkan panitia seleksi ya, beliau-beliau ini nanti yang menyeleksi calon ketua komisioner di KPK, sudah, kita berikan kepada Pansel, panitia seleksi itu,” kata Presiden Jokowi.

Sembilan nama itu adalah:
Ketua merangkap anggota: Dr. Yenti Ganarsih, S.H., M.H.
Wakil ketua merangkap anggota: Prof. Dr. Indriyanto Senoadji, S.H., M.H.

Anggota:
1. Prof. Dr. Harkristuti Harkrisnowo
2. Prof. Dr. Marcus Priyo Gunarto, S.H., M.Hum.
3. Prof. Dr. Hamdi Moeloek
4. Dr. Diani Sadia Wati, S.H., LL.M.
5. Dr. Mualimin Abdi, S.H., M.H.
6. Hendardi, S.H.
7. Al Araf, S.H., M.T.

Meski baru saja dibentuk, namun pansel bikinan Jokowi ini langsung dikritisi Indonesia Corruption Watch (ICW). Koordinator ICW Adnan Topan Husodo menilai sebagian anggota yang dipilih bermasalah.

Menurutnya, anggota pansel seharusnya memahami lembaga KPK, paham peta dan visi pemberantasan korupsi, serta bersih dari afiliasi partai dan kepentingan kelompok sekecil apapun.

"Ketiganya bermasalah," kata Adnan. Namun dia tidak menyebut siapa nama-nama yang bermasalah akan tiga poin tersebut.

Dalam pembentukan Pansel, Presiden Jokowi dinilainya terlalu berkompromi. Hal itu dikhawatirkan memunculkan benturan akan kepentingan politik dalam melakukan pemberantasan kasus korupsi.

"Nampaknya komitmen politik pemberantasan korupsi pemerintah masih harus disesuaikan dengan berbagai kepentingan elit," ucapnya.

Adnan berharap para anggota pansel bisa benar-benar memaksmilakan pemilihan pimpinan KPK dengan memperhatikan rekam jejak calon. Sebab, rekam jejak menurutnya adalah dasar untuk mendapatkan capim yang pas.

"Tanpa bisa dikompromi. Jika pada saatnya mereka kompromi, ya itu artinya desain awal pansel memang perwujudan dari titik kesepakatan dari kepentingan elit terhadap agenda pemberantasan korupsi," kata dia.