Jika dirinci, utang pemerintah yang sebesar Rp 4.528,45 triliun itu terdiri dari pinjaman yang sebesar Rp 780,71 triliun dan surat berharga negara (SBN) Rp 3.747,74 triliun.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan hingga April 2019, total utang pemerintah mencapai Rp4.528,45 triliun atau rasionya setara dengan 29,65 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Jumlah itu turun jika dibandingkan dengan posisi utang di bulan sebelumnya. Tapi masih lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Jika dilihat dalam kurun waktu 1 tahun total utang pemerintah pusat sudah bertambah Rp347,84 triliun. Pada April 2018 posisi utang pemerintah sebesar Rp4.180,61 triliun. Dengan jumlah ini, jika 1 tahun = 365 hari, dalam 1 hari utang pemerintah naik Rp950 miliar, atau nyaris Rp1 triliun.

"Posisi utang pemerintah di level 29,56 persen di bawah 30 persen. Outstanding utang turun Rp 38,8 triliun dibandingkan Maret tahun ini satu bulan turun Rp 38 triliun," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Jika dirinci, utang pemerintah yang sebesar Rp 4.528,45 triliun itu terdiri dari pinjaman yang sebesar Rp 780,71 triliun dan surat berharga negara (SBN) Rp 3.747,74 triliun.

Pinjaman yang sebesar Rp 780,71 triliun itu terdiri dari pinjaman luar negeri sebesar Rp 773,98 triliun dengan rincian, pinjaman bilateral Rp 319,67 triliun, multilateral Rp 415,68 triliun, komersial Rp 38,64 triliun. Sedangkan pinjaman dalam negerinya sebesar Rp 6,73 triliun.

Untuk SBN yang sebesar Rp 3.747,74 triliun, terdiri dari denominasi rupiah Rp 2.735,78 triliun degan rincian SUN Rp 2.260,50 triliun, SBSN Rp 462,95 triliun.

Selanjutnya, denominasi valas sebesar Rp 1.011,96 triliun dengan rincian SUN Rp 759,89 triliun dan SBSN sebesar Rp 216,07 triliun.

Sementara itu, Kemenkeu juga mencatat defisit anggaran sebesar Rp 101 triliun selama April 2019. Defisit ini lebih dalam dari yang dicatatkan pada periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 54,9 triliun.

"Defisit anggaran Rp 101 triliun atau 34,1 persen dari alokasi defisit tahun ini. Dan ini lebih dalam defisitnya dibandingkan April tahun lau Rp 54,9 triliun," kata Sri Mulyani.

Ia menjelaskan, dalamnya defisit anggaran April 2019 ini dipicu oleh stagnannya pertumbuhan pendapatan negara. Padahal, belanja negara cenderung tumbuh tinggi.

Realisasi belanja negara tumbuh 8,4 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang sebesar 8,3 persen "Tekanan pendapatan negara sementara belanja negara relatif sama menghasilkan kondisi APBN April defisit dari tahun lalu," tutur dia.