Rilis data neraca dagang yang secara mengejutkan membukukan defisit besar membuat tekanan jual menderas.

Sesi perdagangan pertengahan pekan ini, Rabu  (15/5), akhirnya ditutup dengan gerak turun seiring antara  indeks harga saham gabungan (IHSG) di bursa saham Indonesia dengan nilai tukar Rupiah.  Rilis data neraca dagang yang cukup mengejutkan dengan terjadinya defisit sebesar $2,5 milyar untuk bulan April lalu telah berhasil membelokkan arah IHSG yang sebelumnya sempat menginjak zona positif dengan konsisten. Tekanan  jual akhirnya  menderas  hingga sesi perdagangan  sore dan sekaligus membuat IHSG konsisten meniti zona merah.  IHSG akhirnya menutup sesi hari ini dengan keruntuhan signifikan 1,48% untuk terhenti di kisaran 5.980,88.

Sebagaimana diwartalan sebelumnya, kinerja perdagangan internasional Indonesia yang sebelumnya diperkirakan defisit sebesar $500 juta untuk bulan April lalu. Namun rilis data oleh BPS menunjukkan defisit hingga lima kali lipat dari perkiraan tersebut. Sementara sentimen kepanikan di bursa global akibat tensi dagang AS-China belum pulih, rilis data suram dari BPS akhirnya membuat IHSG semakin terpuruk. Hingga sesi perdagangan berakhir, sejumlah besar saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan berdasar nilai perdagangan mengalami koreksi tajam.

Sedangkan pantauan pada sesi perdagangan di bursa Asia menunjukkan, masih besarnya perhatian investor pada perkembangan terkini dari perundingan dagang AS-China. Laporan terkini menyebutkan, mantan Duta besar AS untuk China Max Baucus yang menilai peluang 50-50 untuk mencapai kesepakatan dagang pada pertemuan antara Trump dan Xi Jinping di sela-sela pertemuan KTT G-20 di Jepang.  Pernyataan ini sekaligus semakin memantik keraguan investor untuk menentukan arah gerak indeks. Hingga sesi  perdagangan berakhir, indeks Nikkei (Jepang) menguat 0,58% untuk berada di posisi 21.188,56, sementara indeks Hang Seng (Hong Kong) melonjak 0,52% untuk berada di posisi 28.268,71, indeks ASX 200 (Australia) naik 0,71% untuk menjangkau posisi 6.284,2, serta indeks KOSPI (Korea Selatan) yang menanjak 0,53% untuk berada di posisi 2.092,78.

Beralih ke pasar valuta, gerak nilai tukar mata uang Rupiah terlihat masih sulit melepaskan dari dari pelemahan. Gerak melemah Rupiah terlihat konsisten di sepanjang sesi perdagangan hari ini. Pelemahan juga terlihat mendera hampir seluruh mata uang Asia. Hingga sesi perdagangan sore ini, Rupiah tercatat diperdagangkan di kisaran Rp14.450 per Dolar AS. Rilis data neraca dagang yang defisit dengan demikian telah berhasil membuat IHSG dan Rupiah jebol di sesi perdagangan kali ini.