Investor masih menantikan hasil akhir perang dagang AS-China untuk memastikan arah gerak harga minyak.

Sentimen yang masih belum cukup meyakinkan membuat ger4ak harga minyak masih terjebak di atas level $60-an per barel hingga sesi perdagangan siang ini di pasar Asia. Pantauan terkini menunjukkan, harga minyak untuk jenis WTI yang berada di kisaran $61,3 per barel atau menurun signifikan 0,76%.

Sentimen tensi dagang yang memanas memang masih menjadi perhatiaan investor, namun serangkaian sentimen terkait pasok yang belum menentu membuat gerak turun harga minyak masih relatif terbatas.  Untuk dicatat, AS dan China yang secara gabungan  berkontribusi  sebesar 34% konsumsi minyak dunia, di mana bila perang dagang yang mendera kedua negara pecah, penurunan permintaan minyak akan  tak terhindarkan. Pada gilirannya hal ini akan turut menyeret turunnya permintaan minyak dunia secara keseluruhan. 

Namun sentimen muram ini masih diimbangi oleh sentimen mengetatnya pasok oleh serangkaian peristiwa terakhir. Laporan terkini menyebutkan, insiden aksi teror Drone yang mendera pipa minyak di Arab Saudi menjadi  perhatian pasar. Namun sentimen ini langsung terimbangi oleh data melonjaknya persediaan minyak AS.  Sementara pada kabar sebelumnya, kebijakan politik AS yang mengenakan sanksi keras terhadap Iran dan Venezuela yang merupakan dua negara besar produsen  minyak dunia, sangat berimbas pada ketatnya pasok minyak dunia.  Situasi ketatnya pasok ini masih ditambah dengan langkah organisasi kartel minyak dunia OPEC yang sebelumnya telah berhasil menggalang kerjasama pemangkasan produksi dengan sejumlah negera produsen besar minyak dunia, terutama Rusia untuk mengurangi produksi minyak dunia.

Serangkaian sentimen yang tersedia tersebut membuat tekan jual yang mulai tumbuh terlihat ragu. Gerak turun akhirnya terhenti sebagaimana terlihat dalam 7 hari sesi perdagangan terakhir.  Untuk memperoleh gambaran ringkas, berikut disajikan grafik harian harga minyalk terkini:

Tren jual yang terbentuk sejauh ini masih cukup solid, namun tekanan jual masih harus berlanjut guna mempertahankan solidnya tren jual tersebut. Sikap investor yang masih menantikan hasil akhir perang dagang AS-China kini menjadi titik kritis bagi harga minyak untuk mempertahankan solidnya tren jual atau justru berbalik segera mengakhiri tren jual. Level psikologis $60 per barel bukanlah level penting dalam tinjauan teknikal, namun bila harga minyak mampu bertahan di bawah  kisaran $61,7 secara konsisten hingga beberapa hari ke depan sangat mungkin harga  minyak untuk segera menembus ke bawah kisaran $60 per barel.