IHSG yang sempat konsisten menapak zona positif berbalik jebol di penutupan sesi pagi ini, Rabu (15/5) akibat rilis data defisit neraca dagang.

Menutup sesi perdagangan saham pagi di pertengahan pekan ini, Rabu  (15/5), indeks harga saham gabungan (IHSG) di bursa saham Indonesia tercatat berbalik turun setelah sempat konsisten menapak zona penguatan. Sentimen rilis data neraca dagang untuk bulan April yang membukukan defisit, membuat tekana jual menderas saat sesi perdagangan pagi tinggal setengah jam. Gerak naik IHSG yang telah dibukukan di awal sesi pagi akhirnya langsung terkikis habis untuk beralih di zona merah hingga sesi perdagangan pagi ditutup untuk berada di kisaran 6.009,85 atau terpangkas tajam 1,0%.

Laporan menyebutkan, kinerja neraca dagang untukl bulan April yang mengalami defisit sebesar $2,5 miliar atau jauh melampaui perkirakaan sejumlah analis. Sentimen muram ini akhirnya semakin mendapatkan angin dari gerak indeks di bursa Asia yang masih terjebak di rentang terbatas.  Laporan dari sesi perdagangan di Asia menyebutkan, sentimen dari perundingan dagang AS-China yang masih menjadi perhatian utama, namun tiadanya perkembangan terkini yang signifikan membuat gerak indeks cenderung lebih mengikuti potensi teknikalnya.

Hingga sesi  perdagangan pagi berakhir di Jakarta, indeks Nikkei (Jepang) menguat tipis 0,13% untuk berada di posisi 21.094,05, sementara indeks Hang Seng (Hong Kong) melonjak 0,73% untuk berada di posisi 28.326,32, indeks ASX 200 (Australia) naik 0,63% untuk menjangkau posisi 6.279,3, serta indeks KOSPI (Korea Selatan) yang menanjak 0,52% untuk berada di posisi 2.092,76.

Sebagaimana diwartakan sebelumnya, sikap investor di Asia yang mencoba beralih untuk  lebih optimis dibanding sebelumnya setelah menilai penurunan terlalu tajam di sesi hari sebelumnya sebagai aksi yang berlebihan.  Beralih kembali ke bursa saham Indonesia, Gerak IHSG akhirnya semakin terpukul dan ambrol di zona merah akibat  rilis data neraca dagang yang cukup mengejutkan tersebut.  Penurunan ekspor untuk bulan April disebutkan mencapai kisaran 13,1%, kisaran tersebut jauh melampaui penurunan impor yang hanya sebesar 6,58%. Akibatnya, kinerja perdagangan internasional membukukan defisit setelah dalam dua bulan sebelumnya secara berturut mengalami surplus.

Sedangkan  laporan dari pasar valuta menunjukkan, gerak nilai tukar mata uang Rupiah yang masih betah di kisaran Rp14.440 per dolar AS atau melemah 0,1% hingga sesi perdagangan siang ini.  Gerak melemah Rupiah tercatat seiring dengan kecenderungan yang mendera mata uang Asia.