Kuartal pertama tahun ini Singtel membukukan laba sebesar Rp8 Triliun.

Sebuah laporan terkini dari Singapura menyebutkan, perusahaan telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara, Singtel, yang melaporkan kinerja keuangannya untuk kuartal pertama tahun ini yang kurang mengesankan. Laporan lebih lanjut menyatakan, raihan laba bersih yang dibukukan  di kuartal pertama tahun ini yang mencapai titik terendahnya dalam 16 tahun terakhir.  Perolehan laba perusahaan yang bermarkas di Singapura itu terpantau flat dibanding dengan kuartal pertama tahun lalu dengan hanya mencapai $565 (sekitar Rp8 triliun).

Besaran keuntungan yang tidak beranjak tersebut untuk sebagian disebutkan sebagai dikontribusi oleh ketatnya persaingan yang terjadi di pasar Indonesia dan India.  Kinerja perusahaan telekomunikasi Singapura tersebut nampaknya turut terseret dengan  cukup ketatnya pasar di Indonesia.

Lebih jauh disebutkan, kinerja keuangan secara tahunan yang juga belum menunjukkan hasil menegsankan di tahun fiskal yang baru berakhir. Laporan menyatakan, raihan laba bersih Singtel untuk sepanjang tahun yang mencapai Sin$3,1 milyar (sekitar Rp33 triliun). Raihan ini terbilang turun cukup jauh dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai sebesar Sin$5,47 milyar.

Meski demikian, pimpinan Singtel sejauh  ini masih menatap optimis pada prospek kinerja tahun depan dan periode berikutnya. Singtel, demikian menurut Chua Sock Koong, CEO Singtel, berniat untuk mempercepat upaya digitalisasi  untuk menyokong perbaikan produktivitas pelanggannya.

Sebagaimana diwartakan sebelumnya, sejumlah laporan yang menyatakan PT Indosat Tbk, yang dilaporkan membukukan kerugian di kuartal pertama tahun ini.  Kinerja merugi Indosat nampaknya mencerminkan pernyataan Singtel terkait dengan ketatnya persaingan di pasar Indonesia.

Pada pantauan terkini, akibat dari kerugian yang dibukukan Indosat, harga sahamnya di bursa efek Indonesia telah mengalami tekanan jual. Terkini, hingga ulasan ini ddisunting, harga saham perusahaan Indosat yang telah berada di kisaran Rp1.895 setelah kembali terpangkas 1,04%. Harga saham tersebut bahkan kini telah mendekati titik terendahnya sejak awal tahun ini di kisaran Rp1.645.

Sikap optimis Singtel, tentu akan menjadi perhatian menarik, mengingat ketatnya  persaingan di Indonesia  dan juga di India diyakini masih akan berlanjut hingga beberapa waktu ke depan.