Permasalahan itu sudah dilaporkan oleh BPN sejak awal namun tak pernah ditindaklanjuti.

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno resmi menyatakan menolak hasil perhitungan suara pilpres 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum. Mereka beralasan, telah terjadi banyak kecurangan yang merugikan pihaknya selama perhelatan Pilpres 2019.

"Berdasarkan hal tersebut, kami BPN Prabowo-Sandi bersama rakyat indonesia yang sadar hak demokrasinya, menyatakan menolak hasil perhitungan suara dari KPU RI yang sedang berjalan," kata Ketua BPN Djoko Santoso dalam acara mengungkap fakta-fakta kecurangan pilpres 2019 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (14/5).

Menurut Djoko Santoso, permasalahan itu sudah dilaporkan oleh BPN sejak awal namun tak pernah ditindaklanjuti. "Beberapa waktu lalu kami sudah kirim surat ke KPU, tentang audit terhadap IT KPU, meminta dan mendesak di hentikan sistem penghitungan suara di KPU yang curang, terstruktur sistem," kata dia.

Berdasarkan data sementara Sistem Informasi Penghitungan (Situng) KPU, Rabu (15/5/2019) pukul 09.00 WIB, pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin mengungguli pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Jokowi-Ma'ruf mendapat suara 70.973.081 atau 56,24 persen. Sementara Prabowo-Sandi meraih 55.229.826 suara atau 43,76 persen. Selisih perolehan suara di antara keduanya mencapai 15.743.255‬ suara atau 12,48 persen.

Dalam acara tersebut, tim teknis BPN menyampaikan pemaparan mengenai berbagai kecurangan yang terjadi sebelum, saat pemungutan suara, dan sesudahnya.

Salah satu tokoh yang memaparkan kecurangan itu adalah Profesor Laode dan tim internal BPN yang ditugaskan secara khusus untuk menangani persoalan DPT dan IT. Berikut jenis kecurangan yang menjadi sorotan BPN Prabowo-Sandi.

Berikut jenis kecurangan yang menjadi sorotan BPN Prabowo-Sandi.

1. DPT Tuyul
Choirul, salah satu tim BPN yang fokus menangani persoalan DPT mengungkapkan, masalah DPT tidak pernah dituntaskan oleh KPU. Ia membeberkan ada setidaknya 6,1 juta DPT ganda berdasarkan temuan tim BPN di lapangan.

“Inilah sebenarnya persoalan DPT yang disebut DPT tuyul. Dan 6,1 juta DPT ganda, dan 18 juta DPT invalid yang hanya terdapat di Jawa. Kita cek ke lapangan selau ada DPT tuyul atau DPT siluman," jelas Choirul.

"1 TPS itu bisa ada 228 pemilih bertanggal lahir sama, dan itu jumlahnya bukan hanya 1 2, 1 Juli bisa ada 9,8 juta orang,” lanjut Choirul.

2. Salah Input Situng KPU Rugikan Prabowo-Sandi
Kemudian, salah satu ahli IT BPN juga mengungkapkan persoalan kecurangan mengenai input data situng KPU. Menurut dia, kekeliruan input situng KPU selalu merugikan Prabowo-Sandi. Selain itu, lanjut dia, ada beberapa bukti kecurangan mengenai scan C1 yang merupakan hasil editing di photoshop.

“Saya alumni ITB diberi tugas untuk menghimpun penggunaan data situng. Pertama publikasi situng tidak sesuai data base, artinya data itu diambil dulu dari suatu tempat ke tempat lain. Dan terbukti memang saat disidak Bang Fadli, terbukti suara 02 langsung naik,” ujarnya.

“Kemudian tidak ada validasi atau karantina setelah kesalahan entry, kesalahan ini sangat naif, C1 tidak lengkap, ini sudah beredar luas. Kemudian publikasi situng diakui KPU tidak berdasarkan data yang terverifikasi. Jadi bersebrangan dengan verifikator,” imbuhnya.

3. Tanpa Kecurangan, BPN Klaim Prabowo-Sandi Menang 54,4 %
Sementara itu, Prof Laode mengatakan, data tanpa kecurangan tabulasi C1 dari relawan Prabowo-Sandi menunjukkan keunggulan yang signifikan. Menurut perhitungan BPN hingga saat itu, paslon Prabowo-Sandi unggul 54,4 persen. Sementara Jokowi-Ma'ruf Amin mencapai 44,24 persen.

Perhitungan suara dilakukan di lebih dari 51 persen TPS.

“Data tanpa kecurangan yang kta miliki pada jm 12 hari ini, posisi kita 54,24 persen (48 juta suara). Jokowi 44,24 persen (39 juta suara). Posisi ini diambil dari total TPS 51 persen lebih, bagi ahli statistik angka ini sudah valid dan angka ini hanya bisa berubah kalau betul-betul dirampok. Dan ini yang perlu kita jaga, dan teman-teman IT,” tutup Laode.