Investor di Jakarta nampaknya masih menantikan rilis data neraca dagang yang diperkirakan membukukan defisit.

Mengawali sesi perdagangan saham pagi pertengahan pekan ini Rabu (15/5), indeks  harga saham gabungan (IHSG) di bursa saham Indonesia tercatat mampu membukukan kenaikan signifikan.  Gerak naik IHSG telah diperkirakan sebelumnya menyusul potensi teknikal yang terpendam akibat terkungkung oleh muramnya sentimen global dalam beberapa hari sesi perdagangan sebelumnya.

Pantauan terkini menunjukkan, IHSG yang telah melonjak 0,53% untuk berada di kisaran 6.103,8. Sementara pantauan pada sesi perdagangan di Asia menunjukkan, gerak indeks beralih positif setelah sempqat mixed dalam membuka sesi perdagangan pagi. Hingga ulasan ini disunting, indeeks Nikkei (Jepang) menguat tipis 0,07% untuk berada di posisi 21.081,92, sementara indeks Hang Seng (Hong Kong) melonjak 0,91% untuk berada di posisi 28.378,3, indeks ASX 200 (Australia) naik 0,47% untuk menjangkau posisi 6.269,3, serta indeks KOSPI (Korea Selatan) yang menanjak 0,75% untuk berada di posisi 2097,55.

Sebagaimana diwartakan sebelumnya, sikap investor di Asia yang mencoba beralih untuk  lebih optimis dibanding sebelumnya setelah menilai penurunan terlalu tajam di sesi hari sebelumnya sebagai aksi yang berlebihan. Sementara terkait dengan sentimen dari perundingan dagang AS-China terkini, kabar menyatakan pihak pemerintah China dan AS yang masih mencoba berupaya mendapatkan celah menghasilkan kesepakatan dagang di tengah telah dimulainya keputusan menaikkan tarif masuk.

Beralih pada pasar valuta, laporan terkini menunjukkan, gerak nilai tukar mata uang Rupiah yang masih betah di zona koreksi. Gerak koreksi Rupiah kali ini juga terlihat seiring dengan kecenderrungan melemah yang mendera seluruh mata uang Asia. Sentimen dagang yang masih berada dalam kerenatanan untuk terus bereskalasi menjadikan investor berpegang pada Dolar AS dan melepas mata uang Asia.

Pantauan terkini menunjukkan, mata uang Asia yang hanya menyisakan Yuan China yang mampu bertahan di zona penguatan tipis. Selebihnya seluruh mata uang Asia masih terpukul di zona merah. Terkini, Rupiah diperdagangkan di kisaran Rp14.450 per Dolar AS atau melemah 0,17% dibanding posisi penutupan sesi perdagangan hari sebelumnya.

Gerak Rupiah dan IHSG sesungguhnya masih menantikan rilis data neraca dagang untuk bulan April lalu, di mana sebagian besar kalangan memperkirakan akan tegrjadi defisit sekitar $500 juta.  Namun respon IHSG dan Rupiah hingga kini terlihat masih berbeda arah.