Polisi menegaskan tetap mengusut kasus RJ yang mengancam akan menembak Presiden Jokowi.

Penangkapan terhadap Hermawan Susanto (27) yang mengancam akan memenggal kepala Presiden Joko Widodo berbuntut panjang. Publik pun mempertanyakan penanganan kasus serupa yang menjerat RJ (16), yang dinilai berbeda.

Polda Metro Jaya membantah penanganan dua kasus tersebut berbeda. Menurutnya, polisi tetap mengusut kasus RJ yang mengancam akan menembak Presiden Jokowi.

"Untuk kasus RJ tetapi kami proses kok, sudah P21 dan sudah dilimpahkan ke kejaksaan. Ada kok di kami datanya, tidak benar bahwa RJ dilepaskan," kata Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Jerry Raimond Siagian dilansir dari detikcom, Selasa (14/5/2019).

Kasus RJ bermula ketika videonya viral di media sosial. RJ mengenakan kacamata dan bertelanjang dada. Dia sedang berada di sebuah ruangan dan memegang foto Jokowi sambil menunjuk-nunjuknya. Dia sesumbar akan menembak orang nomor satu di Indonesia itu.

Atas kelakuan RJ, orang tua RJ juga sudah minta maaf. Ayah RJ, H, meminta maaf atas video viral putranya yang mengancam akan menembak Presiden Jokowi dan menyebutnya gila. H mengatakan anaknya tidak bermaksud menghina presiden.

Jerry mengakui ada perbedaan saat menangani dua kasus yang mengancam keselamatan Presiden Jokowi itu. Selain karena usia, pengenaan pasal terhadap Hermawan berbeda dengan RJ.

Tersangka Hermawan diketahui telah berusia dewasa yakni 27 tahun, sedangkan RJ pada saat melakukan berusia 16 tahun. Sehingga, penanganannya pun harus berbeda.

"Kalau anak itu proses di kita hanya 20 hari dan dia tidak boleh di-sel-kan dengan tahanan dewasa, tetapi dititipkan di panti sosial, penahanannya di situ," katanya.

Meski tidak ditahan, tetapi proses hukum tetap berjalan. Hingga proses pengadilan, penanganan RJ berbeda dengan tersangka dewasa lainnya.

"Penangannya, karena pelaku anak di bawah umur, mau kejahatan apa pun yang dia lakukan tetap harus menggunakan undang-undang anak. Setiap tahapan di polisi, jaksa dan pengadilan ada diversi, itu undang-undang anak yang katakan demikian. Jadi tidak bisa dipukul rata," tuturnya.

"Persidangannya pun tertutup, tidak boleh terbuka, karena terdakwanya anak-anak," lanjutnya.

Jerry mengatakan, baik Hermawan maupun RJ sama-sama melakukan perbuatan yang sama yakni mengancam kepala negara. Tetapi, ada beberapa hal sehingga pengenaan pasal terhadap Hermawan berbeda seperti pada RJ.

"Dia berbuat pada saat kapan dan di mana, lokus dan tempus juga menentukan maksud dan tujuan ornag itu berkata atau berbuat. Kalau dia (Hermawan) berkata/berbuat bukan pada saat di depan Bawaslu--yang bersamaan dengan people power--mungkin pasalnya bukan itu," katanya.

Hermawan dipersangkakan dengan dugaan makar, karena pengancamannya itu dilakukan pada saat dia mengikuti demo di depan Bawaslu, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat pada Jumat (10/5) lalu. Yang menurut polisi, demo itu adalah untuk upaya makar.

"Jadi tempusnya dia melakukan itu pada saat dia melakukan bersama orang yang saat itu mau melakukan upaya untuk makar, demonstrasi makar, people power. Jadi dia kenanya ke sana (makar)," ujarnya.

Sedangkan RJ, ucapannya itu direkam 3 bulan sebelum akhirnya videonya beredar viral. Polisi menilai ucapan RJ sebagai bercandaan dan tidak ada upaya yang lebih serius.

"Nah kalau yang satu ini dia bercanda dan dia masih anak-anak, yang belum punya pemikiran yang matang dan masih dalam tanggung jawab orang tua, ya tentunya penangannya berbeda dong," ucapnya.

Jerry juga menyinggung soal sikap Hermawan dan RJ. Di mana Hermawan ditangkap polisi, karena melarikan diri, sementara RJ menyerahkan diri. "Yang satu kabur, yang satu lagi jujur dan dia menyerahkan diri," cetusnya.

Untuk diketahui, RJ menyerahkan diri ke polisi pada Rabu 23 Mei 2018 lalu setelah videonya mengancam tembak Jokowi beredar viral di media sosial. RJ kemudian diproses hukum dan saat ini kasusnya sudah di kejaksaan.

Sementara Hermawan ditangkap pada Minggu (12/4) di rumah saudaranya di Parung, Kabupaten Bogor. Polisi menyebut Hermawan melarikan diri setelah tahu videonya viral.