HS terkena pasal makar. Sedangkan S disebut polisi hanya becanda saja.

Kasus ancaman terhadap Presiden Joko Widodo bukan hanya menimpa HS (25 tahun). Kasus serupa juga pernah terjadi pada 2018 silam saat S juga mengancam akan menembak dan memasung orang nomor satu di Indonesia.

HS, pria yang berteriak akan memenggal kepala Jokowi saat demo di depan Bawaslu, Jumat (10/5) telah ditetapkan sebagai tersangka. Dia pun dijerat dengan pasal makar.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, menjelaskan, penangkapan terhadap HS dilakukan oleh Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya di Parung, Kabupaten Bogor. HS disangka melakukan tindak pidana kejahatan keamanan negara dan tindak pidana di bidang ITE dengan modus pengancaman terhadap Presiden RI.

"Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 KUHP dan Pasal 27 ayat 4 jucto Pasal 45 ayat 1 UU ITE," imbuh Argo.

Pasal 104 KUHP sendiri berbunyi:
Makar dengan maksud untuk membunuh, atau merampas kemerdekaan, atau meniadakan kemampuan Presiden atau Wakil Presiden memerintah, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Sementara Pasal 27 ayat 4 berbunyi:
Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan atau pengancaman.

Diketahui, HS tampak dalam video yang direkam ketika aksi penyampaian pendapat di depan gedung Bawaslu pada Jumat (10/5) lalu. Dalam video tersebut, HS tampak berulang kali menyebut siap akan memenggal kepala Jokowi.

"Dari Poso nih siap penggal kepalanya Jokowi, siap penggal kepalanya Jokowi. Jokowi siap lehernya kita penggal, dari Poso, demi Allah!" katanya dalam video yang viral tersebut.

Namun, kasus serupa terjadi setahun silam. Pemuda berinisial S mengaku akan menembak dan memasung kepala Presiden. Ia juga menantang Presiden agar menangkapnya dalam waktu 24 jam.

Tak hanya mengancam, S bahkan juga menyebut Jokowi sebagai kacung. Aksinya itu diabadikan dalam video yang kemudian viral di media sosial.

"Gua tembak kepalanya, gua pasung kepalanya. Ini kacung gua, gua pasung kepalanya. Jokowi gila, gua bakar rumahnya. Presiden gua tantang lu cari gua 24 jam, lu ngga temuin gua, gua yang menang," katanya dalam video yang viral pada Mei 2018 lalu.

Namun, nasib S jauh lebih baik daripada HS yang kini terancam dijerat dengan pasal makar. Pasalnya, S tidak tersentuh hukum, bahkan aksi yang dilakukannya hanya disebut sebagai senda gurau dan kenakalan remaja saja.

"Jadi yang bersangkutan hanya bercanda ya. Jadi intinya dia hanya lucu-lucuan dengan teman-temannya untuk berlomba itu. Artinya bahwa dia ingin mengetes apakah polisi mampu menangkap," ujar Argo Yuwono saat itu, Rabu 23 Mei 2018.

Lebih lanjut, Argo juga menyebut S dalam pengakuannya tidak berniat untuk menghina, melecehkan atau bahkan mengancam ingin membunuh presiden.

"Yang bersangkutan juga menyesali perbuatannya, dan dia juga tidak membenci Presiden," imbuh Argo.