Mobil Esemka pernah digunakan Jokowi saat menjabat sebagai Wali Kota Solo.

Mobil Esemka sebentar lagi bakal mengaspal. Dua tipe mobil Esemka sudah terdaftar di peraturan Kementerian Dalam Negeri lengkap dengan daftar harganya.

Namun, sebelum benar-benar mengaspal, mobil yang digadang-gadang jadi mobil nasional ini sudah menempuh perjalanan berliku.

Ya, Esemka ini pertama kali digagas oleh Sukiyat, pemilik bengkel 'Kiat Motor' yang berada di Klaten, Jawa Tengah. Di tempat inilah para siswa SMK Negeri 7 Surakarta mencoba menuangkan kreativitasnya membuat sebuah mobil. Para siswa di medio 2000an ketika menggandeng SMK Negeri 7 yang awalnya hanya memiliki jurusan pertanian untuk membuka kelas otomotif.

Pria yang akrab disapa Haji Kiat ini lalu menyediakan bengkelnya untuk belajar Praktek Kerja Lapangan (PKL) di bengkel miliknya. "Ketika itu, sekolah tersebut hampir bangkrut, lalu saya sarankan untuk buka jurusan otomotif. Akhirnya, banyak siswa masuk kesana, ya jadinya sekolah tidak jadi bangkrut," jelas Haji Kiat.

Akhirnya, setelah sukses membantu satu sekolah, sekolah-sekolah lain pun ikut serta. Di bengkel miliknya, Haji Kiat mengajari para siswa untuk kreatif membuat semua komponen mobil untuk kemudian dirakit menjadi sebuah mobil utuh hasil karya mereka.

"Saya hanya berbagi ilmu. Kebetulan kemampuan saja disini, jadi saya bantu mereka sesuai kemampuan saya," ucapnya merendah.

Pada tahun 2007, Sukiyat mulai mengembangkan Esemka bersama siswa SMK asal Klaten. Hingga akhirnya mobil buatan Sukiat melambung tinggi setelah mobil 'Kiat Esemka' digunakan Joko Widodo yang saat itu masih mejabat sebagai Wali Kota Solo sebagai mobil dinas.

Sukiyat juga mengaku telah membuat 9 unit prototipe mobil Esemka yang sekarang tersimpan di Solo dan Klaten. Dulu, belum ada nama mobil seperti Garuda I, Rajawali, Digdaya dan sebagainya di prototipe mobil Esemka buatannya. Menurut Sukiyat, kesembilan unit prototipe mobil Esemka itu namanya cuma Kiat Esemka.

"Sembilan unit ada pick up, double cabin, SUV. Semua namanya Kiat Esemka," cerita Sukiyat.

Sejak itu, Esemka kemudian digadang-gadang bakal mulus menjadi proyek mobil nasional dan akan diproduksi massal. Apalagi Jokowi kemudian menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dan kemudian naik pangkat jadi Presiden.

Namun, kabar Esemka bakal diproduksi massal membuat nama Sukiyat 'tersingkir'. Sukiyat sebagai penggagas mobil Esemka tersebut mengaku tidak terlibat dengan proyek Esemka saat ini.

"Saya tidak tahu-menahu (soal Esemka saat ini yang kabarnya siap diproduksi massal). Saya sudah fokus ke AMMDes (Alat Mekanis Multiguna Pedesaan/mobil desa). Saya dengan mobil Esemka ini saya tidak ikut-ikut. Saya Pak Kiyat betul sebagai inisator (mobil Esemka), kalau di tahap industri saya tidak dimintai izin, tidak dimintai keterangan untuk bikin, dan siapa yang industri (yang memproduksi Esemka) saya juga tidak tahu," kata Sukiyat.

Kata Sukiyat, sampai saat ini tidak ada yang menghubunginya untuk terlibat dalam proyek mobil Esemka. "Ditanya aja tidak kok. Saya tidak dikontak. Tanyakan kepada mereka (industri yang memproduksi Esemka)," katanya.

Namun, Sukiyat tidak mempermasalahkan kalau ia tidak dilibatkan dalam proyek mobil Esemka saat ini. Sukiyat mempersilakan kepada industri untuk memproduksi mobil tersebut.

"Silakan diproduksi, dan kalau diproduksi silakan yang bertanggung jawab siapa yang produksi," ujarnya.

Namun, langkah Esemka untuk diproduksi massal tak mudah. Tidak jarang Esemka sering disebut sebagai kendaraan politik karena namanya mencuat ketika menjelang pemilihan umum. Namun hal itu sudah dibantah oleh Staf Khusus Presiden Diaz Hendropriyono.

"Hilang lagi itu karena kita harus membuat satu tim yang benar-benar profesional untuk membangkitkan produk itu, jadi nggak hanya tim kecil yang bisa memproduksi satu Esemka saja nah itu yang kita nggak mau," ucap Diaz.

"Jadi harus tim profesional besar yang bisa memproduksi massal. Itu yang selama ini masih naik turun. Mulai dari Pak Jokowi di Solo, itu mulai dari pabrik kecil. Dengan pabrik segitu kapasitas segitu, nggak mungkin lah kita bisa membuat mass production dengan jumlah yang banyak," lanjutnya.

Pada pertengahan 2018, publik dikejutkan dengan penampakan mobil Esemka dengan nama Garuda I di salah satu jalanan saat sedang diangkut menggunakan truk dan tertangkap kamera warganet. Mobil itu berwarna putih.

Sejak saat itu nama Esemka Garuda mulai mencuat di permukaan. Warganet pun menyamakannya dengan mobil China Foday Lanfort. Kemudian detikOto juga melakukan penelusuran mencari informasi lebih lanjut soal Foday Lanfort. Secara bentuk, Esemka Garuda dan Foday Lanfort memang memiliki kemiripan.

Tidak hanya Garuda, kemudian ada juga sebuah mobil double cabin bertuliskan Esemka Digdaya. Di China, merek Foday juga memiliki pikap double cabin dengan nama Lion F22. Esemka Digdaya yang sempat ramai di media sosial pun diperhatikan mirip dengan Lion F22.

Namun, setelah itu gaung Esemka kembali meredup. Hingga pada akhirnya mobil tersebut kini tampaknya benar-benar sudah siap dijual. Bahkan harganya pun sudah tercantum dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2019 tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Tahun 2019.

Dalam peraturan itu, Esemka didaftarkan dalam dua tipe, yakni Garuda dan Bima. Keduanya mengisi segmen yang berbeda yakni mobil penumpang berjenis minibus dan barang alias pick up. Di segmen minibus terdapat Esemka Garuda 1 2.0 M/T sementara mobil pick up ada Bima 1.2 M/T.

Berdasarkan beleid itu, Esemka Esemka Garuda tahun pembuatan 2019 memiliki Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) Rp209 juta. Sementara Esemka Bima NJKB-nya tak sampai Rp100 juta. NJKB Esemka Bima tercatat Rp81 juta.

Namun harga tersebut tidak bisa menjadi patokan harga jualnya nanti. Sebagai perbandingan, Datsun Go Panca tipe D 1.2 M/T yang NJKB tahun 2019 senilai Rp80 juta memiliki harga jual Rp105,04 juta seperti tercantum dalam situs resminya. Dan NJKB Honda Brio 1.2 E CVT sebesar Rp127 juta, sedangkan harga jualnya mencapai Rp163,5 juta. Artinya harga jual adalah sekitar 130 persen dari NJKB.

Jika berpatok pada perbandingan tersebut, harga mobil Esemka Bima yang memiliki NJKB Rp81 juta, bisa dijual di kisaran harga Rp100 jutaan. Sedangkan Esemka Garuda 1 yang memiliki NJKB Rp209 juta, diprediksi harganya akan berkisar di angka Rp265-275 jutaan.

Angka tersebut terbilang tinggi untuk sebuah mobil berkapasitas 1.200 cc. Namun, masih belum diketahui spesifikasi lengkap beserta fitur-fitur dan teknologi dari Esemka Garuda 1.

Selamat datang Esemka!