Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga mengatakan, upaya Endorse Presiden Joko Widodo terhadap beberapa nama untuk menjadi calon presiden (capres) terkesan sudah seperti barang yang diobral.

Menurut Jamiluddin, nama seperti barang yang diobral, kesannya nilai jualnya sudah menurun.

"Barang yang diobral itu ingin dijual cepat untuk.mengurangi beban gudang dengan harga discount besar-besaran," kata Jamiluddin dikutip dari rmol.id. Minggu (4/12).

Ibarat barang yang diobral itu serupa dengan sosok yang di-endorse oleh Jokowi. Jamiluddin menilai, ketika Jokowi meng-endorse Airlangga Hartarto, Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, dan lainnya, terkesan sudah tidak ada lagi gregetnya.

"Nilai jual dari sosok yang di endorse bukan bertambah naik, tapi terkesan justru menurun. Masyarakat terkesan sudah tidak peduli siapa yang diendorse Jokowi," ujarnya.

Apalagi, mengacu data hasil survei Litbang Kompas. Disebutkan, hanya 15 persen yang akan mengikuti anjuran Jokowi dalam menentukan presiden selanjutnya.

Jadi, hanya sedikit anak bangsa yang masih percaya atas ajakan Jokowi. Artinya, Jokowi sudah tidak dinilai tidak kredibel lagi oleh sebagian besar anak bangsa.

Pendaat Jamiluddin, orang yang dinilai sudah tidak kredibel, tentu sudah tidak berpengaruh lagi. Ajakannya pada umumnya sudah akan dianggap angin lalu.

"Karena itu, sosok yang diendorse Jokowi sudah tidak seharusnya membusungkan dada. Sebab, peluang dijauhi masyarakat akan lebih besar daripada memilihnya," tandasnya.