Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengungkapkan, perekonomian Indonesia dinilai telah bangkit seperti saat sebelum adanya pandemi, yakni pada tahun 2019. Klaim itu dibuktikan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam 4 kuartal terakhir tercatat di atas angka 5 persen.

Pada kuartal IV-2021 pertumbuhan ekonomi nasional sukses bangkit di angka 5,02 persen (year to year/yoy).

Kemudian, pertumbuhan secara tahunan terus berlanjut yakni di angka 5,01 persen (kuartal I-2022), 5,44 persen (kuartal II-2022), dan 5,72 persen (kuartal III-2022).

Diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada sebelum adanya pandemi yakni tepatnya di 2019, sebesar 5,02 persen.

"Pada sisi pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Indonesia yaitu 5 persen selama 4 kuartal, dan kuartal terakhir tahun lalu juga di atas 5 persen," ucap Sri Mulyani dalam paparan APBN KITA, Kamis, 24 November 2022.

"Maka perekonomian Indonesia sudah di atas pre-pandemic di 2019," sambungnya.

Sri Mulyani mengungkapkan, Indonesia patut bersyukur atas capaian ini. Lantaran, banyak negara-negara maju yang pertumbuhan ekonominya masih terbilang cukup lambat.

Ia kembali membeberkan, salah satu kunci bangkitnya kinerja perekonomian Indonesia ditopang oleh faktor neraca perdagangan.

Nilai ekspor pada bulan Oktober 2022 tercatat 24,8 miliar dolar AmerikaSerikat (AS), meningkat 12,30 persen (yoy).

Sedangkan, kinerja impor pada bulan Oktober 2022 tercatat 19,1 miliar dolar AS tumbuh 17,44 persen (yoy).

Dengan demikian, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan (NP) Oktober 2022 mencapai 5,7 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

Dan secara kumulatif Januari-Oktober 2022, surplus NP mencapai 45,5 miliar dolar AS lebih besar dari periode yang sama di tahun sebumnya sebesar 30,9 miliar dolar AS.

"Ini berdampak baik terhadap perekonomian Indonesia. Ekspor dikurang impor kalau hasilnya positif berarti gross kita kontribusi positif," pungkas Menkeu.